Pendidikan Indonesia hari ini tidak bisa dibaca dengan satu warna. Ia bukan kisah tentang kegagalan semata, tetapi juga belum cukup jika hanya dirayakan sebagai deretan keberhasilan. Di banyak ruang kelas, kita melihat guru yang bekerja tekun, murid yang berjuang memahami pelajaran, orang tua yang berharap anaknya memperoleh masa depan lebih baik, dan negara yang terus mencari bentuk kebijakan paling tepat.
Namun, di tengah semua ikhtiar itu, ada satu dilema yang makin terasa: bagaimana mengejar capaian akademik tanpa kehilangan tugas utama pendidikan, yaitu membentuk manusia.

Dilema ini penting dibaca dengan tenang. Kita tentu membutuhkan literasi, numerasi, sains, teknologi, dan daya saing. Tanpa itu, anak-anak kita akan sulit menghadapi dunia yang berubah cepat. Tetapi pendidikan juga tidak boleh berhenti pada angka rapor, hasil tes, ranking sekolah, atau keterampilan teknis. Anak yang pandai berhitung tetap perlu belajar jujur. Anak yang cakap memakai teknologi tetap perlu belajar empati. Anak yang mampu bersaing tetap perlu belajar bekerja sama.
Data internasional menunjukkan bahwa pekerjaan rumah akademik Indonesia masih besar. Dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata penilaian Organisation for Economic Co-operation and Development (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) OECD dalam matematika, membaca, dan sains. Hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia mencapai minimal Level 2 dalam matematika, 25 persen dalam membaca, dan 34 persen dalam sains.
Angka tersebut bukan untuk membuat kita pesimistis, tetapi untuk mengingatkan bahwa penguatan kemampuan dasar tetap menjadi agenda penting pendidikan nasional.
