Dilema Sanad Keilmuan Santri Tahfiz

Jika kita melihat kondisi di lapangan, memang kebanyakan pondok pesantren yang berbasis tahfiz Al-Qur’an tidak menyediakan –atau sangat minim sekali- yang memfasilitasi pengajaran keilmuan Islam (kitab kuning). Alasannya, ditakutkan bisa mengganggu kegiatan santri menghafal.

Alasan tersebut saya kira bisa dipahami. Saya pribadi sebagai pelaku mengakui bahwa tidak mudah proses yang ditempuh seseoang untuk menyalin Al-Qur’an sebanyak tiga puluh juz ke dalam otak dan hatinya. Ditambah ada sebuah prinsip terlebih bagi ulama Maghrib (Maroko) yang disampaikan salah satunya oleh Syeikh Sa’id Al-Kamali. Dikatakannya, “Laa tasytaghil bisyain, qabla kitaabillaah.” Artinya, “Jangan kamu sibuk dengan (ilmu) apapun sebelum mengkhatamkan kitab Allah (Al-Qur-an). Hal itu karena dipandang tidak sopan jika mendahulukan ilmu yang lain sebelum selesai dengan Al-Qur’an.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, kurang tepat jika prinsip tersebut diterapkan di sebagian pondok pondok pesantren di Indonesia, terutama jika yang mondok adalah santri mahasiswa atau mahasantri. Terlebih mahasiswa jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir, yang mata kuliahnya banyak mengurai kitab-kitab kuning. Di satu sisi mereka harus menghafal Al-Qur’an, dan di sisi lain harus memperbanyak referensi kitab-kitab induk yang memerlukan keahlian khusus untuk menggalinya. Jika dipandang dengan perspektif urgensi sanad, mereka harus memiliki guru yang membimbingnya mengarungi keilmuan tersebut.

Solusi Realistis

Berangkat dari permasalahan dan keresahan santri tahfiz tersebut, bagaimanakah solusi yang realistis agar tidak menyalahi tradisi keilmuan yang dijaga ketat sejak dulu oleh para ulama?

Pertama, harus dipahami bahwa proses pengambilan sanad keilmuan itu tidak sesederhana yang dibayangkan, yakni dengan mengaji kepada guru atau sebatas hadir di majelis ilmu lalu otomatis mendapat sanad.

KH Bahaudin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha dalam salah satu cermahnya pernah menceritakan bagaimana Imam Syafi’i dulu ketika hendak belajar kepada Imam Malik. Waktu itu Imam syafi’i sudah khatam kitab Al-Muwattha karya Imam Malik. Begitu juga Imam Nawawi ketika hendak mengaji kepada Imam Haromain. Saat itu Imam Nawawi sudah mengkhatamkan sebanyak tiga ratus kali kitab yang akan dikajinya bersama sang guru.

“Begitulah cara belajar ulama-ulama dulu, mengaji hanya untuk konfirmasi saja. Jadi, santri jangan mengaji dulu sebelum belajar,” kata Gus Baha.

Tinggalkan Balasan