Dilema Sanad Keilmuan Santri Tahfiz

Penjelasan tersebut dapat kita jadikan sebagai solusi bagi mereka belum berkesempatan ber-talaqqi degan guru. Yakni, gunakan sela-sela waktu meghafal untuk mempelajari sendiri kitab-kitab. Lalu nanti setelah ada kesempatan talaqqi, kita tinggal mengkonfirmasi ilmu yang kita dapat kepada guru.

Meskipun demikian, diperlukan alat yang bisa membantu santri agar bisa mempelajari kitab-kitab tersebut. Misalnya ilmu nahu saraf. Ini sekaligus kritik bagi pondok pesantren tahfiz yang tidak mengajarkan santri-santrinya tentang gramatikal bahasa Arab. Jika dirasa dapat menganggu konsentrasi atau menyita waktu, saya sarankan untuk mengambil metode yang dimudahkan sekarang berkembang seperti metode Amtsilati atau Al-Miftah lil Ilum-nya Sidogiri. Dengan wasilah tersebut anak-anak kecil saja sudah pintar membaca kitab.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kedua, seiring berkembangnya zaman, kita sekarang seakan-akan mempunyai perpustakaan besar dalam satu kotak kecil yaitu smartphone. Dengan memanfaatkan tekolongi, kita bisa belajar kepada ulama yang kredibel, dan biasanya sudah dibuat playlist tentang kajian kitab-kitab tertentu.
Hanya, harus diperhatikan bahwa kedua solusi ini sifatnya “sementara” sehingga persentase kebenaran ilmunya mungkin sebesar lima puluh persen, yang lima puluh persennya lagi diperoleh nanti ketika sudah bertemu guru.

Terakhir, dengan memperbanyak membaca selawat. Syeikh Ali jum’ah menyampaikan, “Barangsiapa yang belum mempunyai syeikh (guru pembimbing), maka hendaknya ia memperbanyak membaca seolawat kepada Nabi, dengan sighot yang ia sukai minimal sebanyak seribu kali dalam sehari. Nanti jika ia salah, Rasulullah akan membenarkannya.”

Tambahan dari penulis, bisa lengkapi dengan membaca selawat Badawy Kubro Sidi Syeikh Ahmad Al-Badawy atau juga dengan Dalailul Khairat.

Demikian solusi yang dapat penulis tawarkan. Kiranya solusi tersebut tidak bersfat pilihan. Sangat mudah dipraktikan secara bersamaan. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Wa shollallahu ‘alaa nabiyyina muhammadin kullamaa dzakarohudz dzakiruuna wa ghafala ‘an dzikrihil ghofiluun. Yaa rabbi sholii ‘ala muhammad waftah minal khoiri kulla mughlaq.

Tinggalkan Balasan