Tidak hanya itu, kasus terbaru terungkap di Beji, Depok, Jawa Barat. Guru ngaji berinisial MMS mencabuli 10 anak muridnya. Adapun, korban kasus ini rata-rata berusia 10 tahun, sedangkan sebagian kecilnya berumur 15 tahun.
Kasus-kasus pencabulan seperti ini semakin membuat geram, karena pelaku berafiliasi dengan agama yang semestinya menjunjung tinggi tata krama.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan betapa agama kekurangan elan vital dalam membumikan norma, dan menampilkan betapa seksualitas mampu menaklukkan kewarasan, bahkan bagi seorang ustaz. Mengapa ustaz masa kini bisa ditaklukkan oleh seksualitas, padahal mereka adalah teladan spiritualitas?
Secara umum, kekuatan seksualitas di masa kini berakar pada kapitalisme. Secara singkat, kapitalisme “menuhankan” keuntungan. Karena keuntungan yang dituhankan, maka konsekuensinya, moralitas agama boleh dilanggar, asalkan mampu menyita keuntungan sebesar-besarnya. Salah satu komoditas yang amat menjajikan keuntungan adalah seksualitas.
Nur Syam dalam karyanya, Agama Pelacur, menyebut bahwa sekarang ini seksualitas seakan bukan hal yang tabu lagi. Seksualitas telah menjadi komoditas. Dalam keadaan seperti itu, tentu orang beragama dapat dirangsang untuk berbuat mesum. Akibatnya, orang beragama berada dalam situasi yang dilematis; antara teguh memegang agama atau larut dalam godaan seksualitas.
Dalam keadaan dilematis ini, bagaimana memahami dan menempatkan agama agar agamawan tidak menjelma penjahat agama, karena – meminjam istilah Kimball – mengatasnamakan agama? Pun juga, agar orang beragama tidak terjerumus total dalam seksualitas? Apakah moralitas agama perlu dipaksakan tanpa melihat keadaan dilematis ini atau moralitas agama perlu ditafsirkan kembali agar sesuai dengan situasi dan kondisi terkini?
Fanatisme atau Reinterpretasi Etiket Agama
Subbab tersebut pada hakikatnya berisi dilema. Orang beragama dihadapkan pada pilihan yang dilematis; antara teguh mempertahankan spiritualitas atau larut dalam derasnya godaan seksualitas. Spiritualitas adalah keharusan, sedangkan seksualitas adalah kebutuhan. Ironisnya, seksualitas dewasa ini – sebagai contoh – disusupkan dalam dunia ekonomi, sehingga sudah wajar, perempuan-perempuan cantik berseliweran mendampingi iklan produk-produk industri besar.
Industri besar menancapkan pengaruh kepada dua pihak. Pertama, para buruh atau pekerja. Kedua, para konsumen. Para buruh dibiasakan mempromosikan sesuatu yang berbau seksual dalam produksi barang, sedangkan para konsumen dicekoki pikirannya oleh tampilan wanita menawan saat melihat produk yang dipasarkan. Jadi, lengkaplah sudah kekuatan seksualitas dalam mencengkeram psikologi manusia, khususnya manusia beragama.
