ENTITAS DIMENSI KEDUA
Halaman Rumah/

setelah tiba, angin menggigil menahan sepah melodrama kota
seberapa kali aku menelusup pada rerintihan sederhana itu
Kembangsoka, akurat saja aku mematungi surga kecil-kecilan, tumbuh
menimbuni pekatan masa lalu dan kepatahan masa depan
karena itu, aku katakan yang mesti berujung adalah
kepahitan syukur di pundak ibu;
opor ayam yang dibumbui keningnya halau gundah
dan rujak dengan nasi jagung menguning tubuhnya tambah benderang
dan pelik kesadaran di pergelangan tanganmu ayah
apalagi, rumahmu disini, surgamu disini nak!
pulanglah aku di sini, sejenak saja
sepah itu kan kusirnai lewat senjata doaku
_untukmu hingga kelak kematian.
Di Perantauan/
