yang tiga saudara
memikul gempa di dadanya
sebagai mistik langka
rupanya berubah luka bukan insomnia
II/

apalagi yang tak ditanggung
sejak tubuhmu enak di sangker
anakmu, hafidz adalah kasturi namamu di surga
juga mimpinya diuji
darimu
III/
saat gundukan itu,
perut bunting, leher bersorban samper
kau membenturkannya
dikiranya mengecil tinggal sebiji
cucuran darah mendahului
seperti sungai-laut panjang di sela rambutmu
tetapi alif apalagi
sebagai senjata?
hanya Al-Mulk peganganmu
IV/
aku mesti rindu padamu
melalui panjang cerita tentangmu
pada kita yang susah berkata petuah
pada kita yang tiada tongkuna
semua menjelma palsu
harus pelan sepelan satu, satu.
V/
mati tetap mati
yang rompal dari merelakanmu
adalah sisa yang finish mengamini
diri dari jejaknya
juga kalimat samudra yang
belum kita tuangkan dalam baris puisi , sampai kini terkenang.
Delima, 2024.
PESAN DARI USIA
akan kujala pesan moral nabi
yang termaktub sayap-sayap puja dan jagat
di ambang padam yang bisu leluhur
“sebentar lagi tiba” katamu
“iya fahim” kepalanku luluh lantak tapi
ibu telah menjamuinya seluruh angka
menjamin nada-nada kuhafalkan sebelum nyala
sebelum juga memakiku di jalan angan mereka
aku tahu langkah ini seharusnya
tapi bagaimana aku melukai lisannya
yang berdikari “dirimu tak bertepi”
lantaran dirimu adalah tangan-tangan
tumbuh dari cerita dan
dukamu seperti mengentak labirin ilahi
sedikit demi sedikit kujala lagi
meraupi sekujur,
: lisanmu
membahana kening-kening.
2021/2022.
