DIMENSI KEDUA

yang tiga saudara
memikul gempa di dadanya
sebagai mistik langka
rupanya berubah luka bukan insomnia

II/

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

apalagi yang tak ditanggung
sejak tubuhmu enak di sangker
anakmu, hafidz adalah kasturi namamu di surga
juga mimpinya diuji
darimu

III/

saat gundukan itu,
perut bunting, leher bersorban samper
kau membenturkannya
dikiranya mengecil tinggal sebiji
cucuran darah mendahului
seperti sungai-laut panjang di sela rambutmu

tetapi alif apalagi
sebagai senjata?
hanya Al-Mulk peganganmu

IV/

aku mesti rindu padamu
melalui panjang cerita tentangmu
pada kita yang susah berkata petuah
pada kita yang tiada tongkuna
semua menjelma palsu
harus pelan sepelan satu, satu.

V/

mati tetap mati
yang rompal dari merelakanmu
adalah sisa yang finish mengamini
diri dari jejaknya
juga kalimat samudra yang
belum kita tuangkan dalam baris puisi , sampai kini terkenang.

Delima, 2024.

PESAN DARI USIA

akan kujala pesan moral nabi
yang termaktub sayap-sayap puja dan jagat
di ambang padam yang bisu leluhur
“sebentar lagi tiba” katamu
“iya fahim” kepalanku luluh lantak tapi
ibu telah menjamuinya seluruh angka
menjamin nada-nada kuhafalkan sebelum nyala
sebelum juga memakiku di jalan angan mereka
aku tahu langkah ini seharusnya
tapi bagaimana aku melukai lisannya
yang berdikari “dirimu tak bertepi”

lantaran dirimu adalah tangan-tangan
tumbuh dari cerita dan
dukamu seperti mengentak labirin ilahi
sedikit demi sedikit kujala lagi
meraupi sekujur,
: lisanmu
membahana kening-kening.

2021/2022.

Tinggalkan Balasan