Distorsi Sastra dan Krisis Literasi

Di Korea, Jepang, dan China, setiap orang rata-rata membaca 20 buku baru per tahunnya. Saat ini, Indonesia menduduki posisi terendah soal urusan membaca. Standar internasional menyatakan bangsa yang ideal adalah membaca 3 buku baru untuk setiap orang per tahunnya. (perpustakaan.kemendagri.go.id)

Rendahnya literasi disebabkan beberapa faktor antara lain; (1) belum berkembangnya budaya menulis dan membaca di Indonesia. Masyarakat lebih dominan menyukai budaya lisan. (2) kegagalan pemerintah untuk membuat program minat baca masyarakat. (3) belum begitu paham manfaat dari membaca.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Padahal dengan berliterasi, masyarakat secara otomatis akan membangkitkan dunia sastra suatu bangsa. Dampak positifnya adalah berkurangnya konflik dan meningkatnya kualitas sumber daya manusia. Sastra bukan hanya karya yang bisa dirunut kebenarannya. Kebenaran sastra tidak bersifat kebenaran faktual, melainkan kebenaran kemanusiaan. Menekankan pada dimensi personal dan sosial. Sehingga pengalaman dan pengetahuan kemanusiaan secara fundamental mengandung gagasan estetika yang menimbulkan perasaan tenang, indah, dan bahagia.

Sastra tetap akan menjadi dunia reka. Refleksi bias atau bayangan dari kenyataan yang terwakilinya. Sastra adalah pendustaan yang mendustakan dirinya sendiri. Ketika sastra dipaksa mendesakkan dunia rekaan pada pihak lain, maka sastra akan berhenti menjadi seni. Maka sastra secara sistem mengajarkan nilai demokrasi tentang kebebasan namun sadar batas.

Manusia selalu berusaha berjalan menuju “cahaya” dengan metode sastra masing-masing. Sebagai penikmat sastra, manusia seharusnya mampu untuk menghargai karya sastra orang lain, meski dari sudut pandang setiap orang berbeda-beda dalam menilai kualitas sebuah karya. Manusia yang terjebak pada bias-bias kebenaran akan kesulitan menerima dan diterima oleh Tuhan dan makhluk yang meliputinya, termasuk di dalamnya adalah manusia dan alam semesta.

Tinggalkan Balasan