Doa Orang Gila

Sejak dinasihati Lik Rohmat. Slamet tidak mau lagi menginjakkan kakinya di rumah pamannya itu. Selang beberapa lama, Slamet datang kepada Lik Topik yang rumahnya berjarak beberapa meter dari rumah Lik Rohmat. Karena melihat Slamet datang ke rumah, akhirnya Lik Rohmat pun bertanya kepada Lik Topik,

“Ada apa Slamet datang ke rumahmu, Pik?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Biasa, dia main, ngobrol ngalor-ngidul sambil mampir tidur siang,” jawab Lik Topik.

“Apa Slamet marah kepadaku ya, kok tumben nggak mau datang ke rumahku.”

“Marah kenapa, Kang Roh?”

“Aku dengar dari Lamidi, kalau Slamet itu sekarang makin nakal. Ia nggak mau ke sawah, sukanya hanya main togel, modifikasi motor, dan makan-makan di warung.”

“Iya mungkin, Kang. Orang yang hanya ditakuti Slamet cuma Kang Agung.”

***

Semua sawah Slamet sudah berpindah tangan kepada orang lain. Kebiasaannya main togel, modifikasi motor, dan jajan di warung melahap semua kekayaan peninggalan ayahnya. Kini ia tinggal di sebuah rumah kecil milik Lik Topik yang terletak di sawah. Ia masih malas bekerja, kehidupannya hanya meminta belas kasihan dari para kerabatnya.

“Kemarin sudah kuberi beras 15 kg, masa dua hari sudah habis? Apa setiap hari kamu makan delapan kilo?”

“Saya jual Lik, aku juga butuh membayar listrik, membeli bensin, dan lainnya,” jawab Slamet kepada Lik Topik.

“Kamu kerja gitu lho Met, jangan menggantungkan diri kepada orang lain. Aku juga punya tanggungan untuk mencukupi Bu Lik dan keponakanmu.”

Slamet pergi dengan tangan hampa. Ia mengayunkan langkah menuju motornya Suzuki RC. Karena pikirannya gelap, Slamet menstarter motornya dengan emosi. Kemudian menarik gas dengan keras. Pikiran Slamet kalut. Jalan satu-satunya sepertinya ia harus menggadaikan motornya untuk makan.

“Oh, Mas Slamet. Ada perlu apa?”

“Gini Mas Lamidi, aku lagi butuh uang.”

“Kalau pinjam tidak ada Mas Met, soalnya banyak orang yang sudah menggadaikan motor dan belum ditebus sampai sekarang. Utang mas bulan kemarin belum dibayar, kan?”

“Iya, rencanaku mau saya bayar. Tapi gini mas, aku mau menggadaikan motor RC ini untuk biaya berangkat bekerja ke Surabaya. Apa bisa Mas membantu saya?” ucap Slamet bernada memelas.

“Bisa Mas, tapi murah karena motor dua tak sekarang sulit menjualnya. Surat-suratnya bagaimana?” Lamidi berdiri menuju motor RC milik Slamet. Matanya memelototi motor butut milik Slamet.

Tinggalkan Balasan