“Assalamualaikum, saudaraku. Benar, ini aku Nasib Subono sahabatmu.”
Hendra risi dipeluk begitu.

“Apa kabarmu?” kata Hendra setelah berhasil melepaskan pelukan Nasib Subono, orang berjenggot itu.
“Duduklah,” kata Nasib, duduk bersila. “Banyak yang akan kuceritakan padamu.”
Hendra duduk bersila di hadapan Nasib, mendengarkan. Baiklah, ini versi pendek cerita itu. Mulai sejak Nasib masuk rumah sakit. Konon, di rumah sakit itu Nasib bertemu lelaki tua berjenggot yang di kemudian hari membawanya ke sebuah pondok pesantren di kaki bukit sebuah kabupaten. Nasib menjadi santri di sana. Segala keburukannya sirna.
“Mengapa kamu pulang … ke sini?” tanya Hendra, tak tega mengatakan kalau dusun ini bukan lagi kampung halaman Nasib.
Tak ada lagi kerabat Nasib di sini. Tak ada lagi hartanya di sini, karena sang ayah (sebelum meninggal) telah mewakafkan tanah dan rumah beliau pada persyarikatan di dusun itu.
Nasib mendesah, menatap Hendra lekat-lekat.
“Aku bukan mau mencari masalah di sini. Aku akan meminta maaf pada warga, meski aku tak yakin apa mereka mau memaafkanku. Cukup bagiku asal bisa mengunjungi makam kedua orangtuaku.”
Hendra mengangguk-angguk.
“Akan kusampaikan pada Pak Kadus. Biar dia yang menjelaskannya pada warga,” kata Hendra, lalu beranjak ke serambi musala. Tetapi, Rahman sudah tidak ada.
“Biar aku sampaikan sendiri ke warga. Aku akan ke rumah-rumah warga,” kata Nasib, lalu meninggalkan musala.
“Tak perlu. Lebih baik kita ke gapura dusun,” kata Hendra, menyusulnya.
Jalanan dusun tampak lengang. Hendra melihat beberapa pasang mata mengintip dari balik tirai jendela rumah-rumah.
Di gapura dusun, sepi, hanya ada Rahman.
“Kusuruh orang-orang untuk bubar,” kata Rahman.
“Kalau begitu, izinkan aku ke makam ayah dan ibuku. Setelah itu, aku akan menemui warga,” kata Nasib, lalu meninggalkan Hendra dan Rahman.
Hendra dan Rahman berpandangan. Rahman mengangguk, lalu membiarkan Hendra berjalan gegas menyusul Nasib.
Sepanjang jalan berbatu menuju kuburan, tiada henti Nasib menggumamkan zikir. Hendra mengimbangi langkahnya dengan banyak diam. Nasib memasukkan butiran tasbih ke saku kemeja kokonya, dan masih berjalan, ia menoleh pada Hendra.
“Kamu ingat pertemuan terakhir kita?” tanya Nasib.
“Ya. Di acara perpisahan SMA-ku.”
“Kamu tahu, setelah pertemuan itu aku berdoa? Setidaknya itulah yang kupikirkan saat itu, berdoa.”
“Berdoa?”
“Hahaha. Penjudi juga boleh berdoa. Mungkin aneh, tapi itu yang kulakukan. Hari itu aku berdoa agar menang rolet. Kalau aku kalah rolet, mungkin aku tidak bakat jadi penjudi, maka itu adalah hari terakhirku sebagai penjudi. Itulah doaku.”
“Tuhan mengabulkan doa penjudi?”
Nasib tersenyum. Gapura kuburan sudah di depan mata.
Batang, 3 September 2022.
Ilustrasi: Lukisan Edvard Munch, Melancholy.
