Seminggu, dua minggu, hingga satu bulan kemudian, surat itu belum juga berbalas. Pak Syamaran gelisah menanti dan berkali-kali meminta anaknya ke kantor pos.
“Mungkin saja Pak Pos lupa mengantarnya, atau suratnya terselip. Pokoknya, kamu tanyakan apa ada surat untukku? Surat dari Bapak Zulkarnain untuk Bapak Syamaran,” perintah Pak Syamaran pada anaknya.

Sekali lagi Aksan Wicaksono menurut, lekas ke kantor pos. Jawaban dari kantor pos tetap sama; tak ada surat untuk Pak Syamaran.
“Bapak hubungi saja Pak Zul dengan WA. Ya, setidaknya dengan telepon atau SMS,” saran Aksan Wicaksono.
“Kami sudah sepakat tidak akan memiliki hape. Kami akan bersetia dengan surat di kertas bukan di hape. Kami ini manusia langka,” sahut Pak Syamaran.
Akhirnya, surat yang dinanti-nanti itupun datanglah. Surat dari Yogyakarta, tetapi mengapa pengirimnya seorang perempuan?
“Perkenalkan saya Halimah, istri Bapak Zulkarnain. Saya lupa mengabarkan, kalau suami saya sudah meninggal sekira satu bulan silam. Mohon doa dari Bapak, semoga suami saya masuk sorga.”
Bergetar tangan Pak Syamaran, hingga surat itu terlepas dari genggaman, meluncur ke lantai bagai daun gugur. Itu kesedihan yang kesekian baginya setelah kematian istrinya beberapa tahun silam, dan sekarang sahabat pena terakhirnya berpulang pula.
