Dua Manusia Langka

Meski begitu, tiap malam Pak Syamaran masih menyempatkan menulis surat, lalu menyimpannya di laci meja tulis kesayangannya di ruang tengah.

Itu hal yang aneh bagi Aksan Wicaksono, tetapi ia tak berani bertanya langsung pada ayahnya. Pada istrinyalah ia bertanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Untuk apa ayah menulis surat tiap malam bila tidak mengirimkannya kepada entah siapa?” tanya Aksan Wicaksono.

“Mungkin itu cara ayah melanjutkan hidup. Biarkan saja bila itu menyenangkan bagi ayah. Apa ayah masih punya sahabat pena?” sahut Wulandari, istrinya.

“Setahuku tidak.”

Beberapa hari kemudian, Aksan Wicaksono bersama istri bersih-bersih rumah. Pak Syamaran masih pergi jalan-jalan di Ahad pagi. Aksan Wicaksono menemukan belasan amplop putih bergaris tepi merah putih di laci meja tulis ayahnya. Tak ada alamat pada semua amplop itu, hanya ada sebaris kalimat: Yth. Tuhanku.

Apa isi semua surat dalam amplop itu? Entahlah, Aksan Wicaksono tak berani membukanya, ia tak punya hak untuk membukanya. Selain itu, ayahnya juga telah pulang dari jalan-jalan.

Batang, 12 Desember 2021.

Tinggalkan Balasan