Gerakan pembaruan Islam terus berlanjut hingga memasuki abad ke-20 di mana tokoh seperti Haji Rasul dan Hamka muncul. Sekolah berbasis Islam pembaruan, Sumatra Thawalib didirikan pada 1910 oleh Ibrahim Musa di Parabek, Sumatera Barat. Setahun kemudian, majalah Al-Munir yang terinspirasi dari Al-Manar di Mesir didirikan di Padang oleh Abdullah Ahmad.
Pada saat yang sama di Palembang, sebagaimana diceritakan oleh Jeroen Peeter, telah terjadi gerakan yang sama. Para anak muda yang baru kembali dari haji membawa pemikiran-pemikiran pembaruan yang diprakarsai oleh tokoh seperti Muhammad Abduh, Rasyid Rida, dan kawan-kawan.

Salah satunya adalah munculnya sekolah Syamsul Huda pada 1927. Sekolah ini didirikan oleh seorang yang baru pulang dari haji, Haji Husin Alim bin Umar di Kampung 5 Ulu, Kota Palembang. Anak-anak dari kampung sekitar seperti 3,4, dan 5 Ulu belajar di sini.
Selain mengajar anak-anak, Haji Husin juga membuka kursus tablig guna menyebarkan ajaran pembaruan yang diterimannya selama belajar di Mekkah. Aktivitas ini segera mengundang percekcokan dengan kaum tradisional yang telah lama mapan di Palembang.
Diapit oleh dua gelombang besar ide pembaruan, posisi Jambi mau tak mau terkena riak-riuh yang terjadi pada dua tetangganya tersebut. Pada sekitar 1929, Guru Hasan menemukan seseorang dari Pulau Pandan, Kota Jambi memegang sebuah risalah yang menentang tradisi talqin dan ritual kematian kaum tradisional lainnya. Gerakan sekolah Syamsul Huda juga telah didengar di Jambi sebagaimana dijelaskan pada pendahuluan Bahjat Al-Hidayat.
Riak dari Minangkabau muncul dari seseorang yang bernama Ilyas. Ilyas dipercaya seorang dai Muhammadiyah asal Sumatera Barat. Ia datang ke Seberang Kota Jambi guna memperoleh izin mengajar di salah satu madrasah (setidaknya begitulah cerita yang beredar).
Namun, kedatangan Ilyas tidak sekadar ingin mengajar, ia membawa misi pembaruan khas Muhammadiyah ke Jambi. Dimulai dari mengubah haluan empat madrasah di Jambi. Perdebatan pun terjadi antara Ilyas dan para guru di Jambi. Perdebatan akhirnya dimenangkan oleh para guru. Namun, perisitwa tersebut begitu membekas di hati sehingga menjadi perhatian para guru muda, khususnya Guru Majid Ghaffar.
Demikianlah akhirnya, sebagai respons atas gerakan tersebut muncullah dua karya yang menentang ide pembaruan Islam di Jambi tersebut. Dua karya tersebut, meskipun tidak begitu banyak dibaca di Jambi, telah memperlihatkan pemikiran ulama Jambi. Mengingat betapa besarnya pengaruh empat madrasah tersebut dalam kehidupan beragama masyarakat Jambi, maka tidak heran pula jika Islam tradisional di Jambi begitu kuat dan mapan hingga kini.
