Dua Titipan Mbah

“Saya, Mbah Usup, yang merawat musala Al-Mudzakir.”

“Mohon maaf, saya izin menginap di musala sini. Kemarin malam saya dikejar massa. Saya mohon perlindungan Mbah, jangan diserahkan kepada mereka,” ujar Slamet penuh iba kepada Mbah Usup

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mbah Usup tercengang. Tidak menyangka orang yang bersembunyi adalah orang yang dikerjar orang-orang kemarin malam. Slamet terus bercerita tentang kejadian yang membuatnya ia gelap mata. Ia lapar, makanya sampai berniat menggondol motor yang terpakir di depan ruko. Baru mendekati motor yang diincar, ia diteriaki maling oleh seseorang. Akhirnya, Slamet memutuskan berlari tak tentu arah hingga ia masuk ke Musala As-Salam. Karena dirasa kurang aman, akhirnya ia pindah ke tempat yang agak jauh hingga akhirnya sampai Musala Al-Mudzakir di desa Sumberasri.

***

Semenjak Slamet tinggal di Musala Al-Mudzakir, semua terlihat rapi. Walaupun kondisinya sederhana, tangan Slamet mampu membuat Musala Al-Mudzakir bersih tertata.

“Kamu rajin Met, anak-anak juga suka kamu ajar.”

“Ini berkat bimbingan Mbah.”

***

Sudah sepuluh tahun lebih Slamet tinggal di Musala Al-Mudzakir sebagai marbot. Di kala senggang, Slamet mengisinya dengan menimba ilmu agama kepada Mbah Usup. Mbah Usup memang seorang kiai desa, tetapi keilmuannya mumpuni karena ia sangat suka membaca berbagai kitab. Mbah Usup juga sering bertukar pemikiran dengan kiai dan dus-gus di Pondok Miftahul Mubtadiin Krempyang untuk menambah ketajaman ilmunya.

“Hari ini aku mau menjemput Wasik, karena pengabdiannya di Pondok Al-Hikmah Purwoasri telah berakhir. Kamu ikut ya, Met?”

“Ya, Mbah.”

Wasik adalah anak bungsu Mbah Usup. Sejak MI, Ia mondok di Al-Hikmah, salah satu pesantren besar di Kediri. Sekarang Wasik tumbuh menjadi wanita yang cantik. Selain mondok, ia juga kuliah di IAIN Kediri. Banyak orang yang sudah melamar Wasik, tetapi belum ada yang mampu mendapatkan hati Wasik atau sesuai dengan kriteria Mbah Usup.

***

Setelah berpamitan dengan Kiai Nashir, Pengasuh Pesantren Al-Hikmah, akhirnya Wasik diboyong pulang. Di dalam mobil, Mbah Usup membuka pembicaraan.

“Wasik, aku sangat bangga sekarang kamu sudah menyelasaikan pengabdianmu. Kamu juga berhasil menjadi sarjana. Sekarang, saya tanya kepadamu apa keinginanmu setelah ini?”

“Saya ingin mengajar, Bah. Mewujudkan cita-cita Abah mendidik warga desa Sumberasri agar berakhlakul karimah.”

“Kamu tidak ingin melamar pekerjaan di tempat lain dulu? Kamu tahu ‘kan jika kamu memilih mengajar itu harus ikhlas?”

“Ya Bah, tekad saya sudah bulat. Sebelum saya pulang, Abah Nashir juga berpesan ‘Jika kamu pulang mengajarlah walaupun yang kamu ajar itu adikmu!’”

TPA Al-Mudzakir memiliki lebih dari seratus murid. Mbah Usup, Mbah Faiq, dan Slamet terkadang kewalahan mengajar.

***

Slamet dipanggil Mbah Usup. Setelah datang, Slamet didudukkan.

Tinggalkan Balasan