“Met, aku sudah tua sehingga tenagaku tidak sekuat muda dulu. Setelah kupikirkan bersama Mbah Faiq, kami memutuskan menitipkan dua hal kepadamu untuk kamu rawat dengan sebaik mungkin. Aku harap kamu menerimanya.”
“Injih, Mbah. Insyaallah.”

“Aku sudah mengenalmu lama. Aku dan Mbah Faiq yakin Insyaallah kamu bisa menjaganya dengan baik. Yang pertama, aku titip Musala dan TPA Al-Mudzakir. Yang Kedua, anakku, Wasik. Aku harap kamu menjaganya, Met.”
Hati Slamet terguncang. Tak menyangka Wasik, seorang wanita yang sempurna di matanya, akan dijodohkan dengannya.
“Titipanku yang pertama wajib kamu terima. Sementara, masalah aku menitipkan Wasik, aku akan menanyakan dulu kepadanya setelah kamu menyanggupinya.”
“Injih Mbah, saya menerima jika menurut Mbah itu terbaik.”
“Baik, Met. Semoga saja Wasik setuju terhadap perjodohan ini.”
***
Sebelum peristiwa perjodohan itu, Slamet menemui Pakde, orang gila yang dulu sering disedekahi dan dimintai doa. Entah berapa tahun Slamet tidak pernah menemuinya karena ia harus menata kehidupan barunya sebagai marbot Musala Al-Mudzakir.
“Masih ingat aku, Pak De?” Slamet sambil memberikan nasi pecel tumpang dan sebungkus es teh.
Pak De langsung membuka bungkusan nasi lalu melahapnya. Sementara Slamet, masih percaya Pakde menyimak perkataannya dengan saksama.
“Aku berterima kasih, berkat doamu aku sekarang menemukan jalan keselamatan dunia dan akhirat. Kali ini aku minta doamu, semoga lekas ketemu jodoh yang salihah.”
Slamet memang memiliki kebiasaan unik sejak dulu. Setiap punya rezeki lebih, ia menyedekahi orang gila yang hidup menggelandang kemudian meminta doanya.
***
“Sik, aku sudah lama mengenal Slamet. Ia pemuda yang baik.”
“Ya Mi. Saya merasa begitu, Mas Slamet memang baik. Ia ikhlas membantu Abah bekerja di sawah.”
“Kamu tahu maksudku?”
“Insyaallah Bah. Saya menurut saja, dawuhipun Abah.”
“Aku hanya ingin mempertegas maksudku dan Abahmu, Sik. Kamu sudah tahu keseharian Slamet. Abah juga telah mengajarkan banyak ilmu fikih insyaallah tak akan kalah dengan lulusan pesantren. Menurutku, dia seorang lelaki yang salih. Insyaallah bisa menjadi imammu.”
“Injih Mi. Saya menurut saja dengan keputusan Abah dan Umi.”
