“Sekarang kau sudah tahu. Dan akan kuberitahu satu hal lagi.”
“Apa?”

“Bahwa ada dua pilihan untukmu sekarang,” kata orang itu, membuat lidahku semakin tercekat.
“Apa?” tanyaku dengan suara menggeletar.
“Kau kembalikan batu itu dalam bentuk batu atau uang. Terserah kamu.”
Ucapannya semakin membuat tubuhku lemas. Suaranya yang lirih begitu mengejutkan dan sekaligus menyakitkan. Bagaimana bisa saat aku yang sedang butuh-butuhnya, uang itu tiba-tiba mau diminta. Gemuruh seolah mengguncang jiwaku.
“Tapi tidak ada uang di tanganku…” tukasku bingung.
“Harta apa yang paling berharga yang kau miliki?” tanyanya lagi.
Aku diam sejenak memikir jawaban.
“Anak-istriku adalah yang paling berharga dalam hidupku,” aku kehabisan cara menepis todongannya.
“Berikan bayimu padaku,” alisnya bergerak-gerak menemani ucapan sadisnya.
“Ah. Kau sebenarnya siapa. Banyak kata dan mengada-ada!” gertakku penuh emosi.
“Terimalah kenyataan ini. Kau tak punya anak. Bukankah Dokter Liem mengatakan kamu mandul? Lalu bagaimana bisa kamu punya anak?”
Kepalaku pusing, berjubel dipenuhi amarah. Ingatanku menelisik ke belakang. Dan ucapan Dokter Liem beberapa tahun yang lalu itu terngiang-ngiang kembali di telingaku. Aku tak mampu menjawab.
“Bukankah sehari-hari kamu meninggalkan istrimu? Tahukah kamu apa yang dilakukannya selama seharian tanpamu? Tak tahu kamu untuk apa Suji selalu pulang awal? Dan sering tak pergi ke bukit batu itu?”
“Jangan kau teruskan kata-katamu!”
“Lihat saja, nanti anakmu yang baru lahir itu lebih mirip siapa!”
“Dia adalah ganti rugi atas batu-batu yang kau curi itu.”
Dia terus berkata-kata. Dan aku telah kehabisan kata.
“Kau tak punya anak. Bayi itu adalah anaknya Suji. Istrimu selingkuh. Tinggalkan dia dan biarkan aku yang mengambil anak itu.”
“Apakah kau Sarjono yang dikebiri karena menghamili anak-anak gadis itu? Kau pasti tengah gelisah karena tak bisa punya anak sekarang!” ucapku lantang. Kuingat sekarang. Dia adalah kakak sulung Suji yang mata keranjang sejak muda. Lalu dikebiri dan diusir oleh warga, entah berapa tahun yang lalu.
Dia malah terbahak-bahak, memancing emosi.
“Aku memang tak bisa punya anak. Tapi aku punya harta. Dengan harta aku bisa memiliki semuanya. Termasuk anak dan istrimu. Ha-ha-ha ….”
Aku terdiam menahan amarah. Lalu terlintaslah wajah Suji di benakku. Memandang Sarjono dan mengingat wajah Suji benar-benar membuatku muak. Masih jelas pula di ingatanku ketika aku menemukan jaket milik Suji di bukit batu kala itu. Ada selembar poto istriku yang terselip di dompetnya.
