Di samping itu, tidak kalah penting adalah ‘media sandingan’ untuk mengampanyekan keteraksesan oleh khalayak. Berbagai media, dalam dinamika kampanye akses itu, kualitas tulisan dan apresiasi materi tidak menjamin tingkat aksesibilitas oleh khalayak (viewers). Tidak semua orang berkutat dengan web-web. Tidak semua orang merasa tertarik dengan tampilan vitur bacaan.
Oleh demikian, akun media sosial harus dijadikan ‘media sandingan’ untuk lebih masif dan intensif. Di Instagram, Facebook, Twitter, Youtube. Saat ini, duniasantri hanya menyediakan grup Telegram dan WhatsApp untuk berbagi di kalangan sendiri. Sejauh ini, duniasantri masih belum memasifkan diri dengan peluang yang ada. Terakhir kami lihat akun IG @jejaringdunuasantri dibiarkan terbengkalai tanpa unggah kebaruan.

Sedangkan media lain, seperti yang disebutkan, ‘share link’ sana-sini untuk mengejar tingkat keteraksesan khalayak. Dalam taraf yang lebih sistematis, ‘share link’ pemuatan tulisan menjadi prasyarat bagi kontributor yang akan mencairkan honoriumnya. Tidak didapati pertimbangan materialis atau pragmatis di dalamnya—menambah viewers, misalnya. Akan tetapi, hal ini menyangkut soal intensifikasi tersampaikannya kognisi kesantrian kepada khalayak melalui literasi digital.
Demikianlah sekelumit permasalahan yang mungkin dihadapi oleh media kita, duniasantri.co —meski tidak menutup kemungkinan untuk permasalahan lain. Barang kali, dalam usianya yang tiga tahun ini, kita bisa menjadikan momentum itu sebagai titik tolak reflektif terus berbenah untuk progresivitas duniasantri ke depan. Intinya, narasi yang dibawa oleh duniasantri dalam tiga tahun perjalanannya ini adalah mengampanyekan secara masif literasi santri.
Wallahu A’lam.
