Literasi Digital
Saat ini kita dihadapkan pada tantangan dunia digital yang semakin kompleks. Kehidupan serba-serbi digital, mulai dari dompet digital, mujahid digital, hingga literasi digital. Semua kepentingan politis-ekonomis, halakah dakwah, dan fikrah keagamaan menjadi niscaya dikampanyekan di ruang-ruang digital. Tidak terkecuali literasi yang diindikasikan dengan banyaknya media mainstream yang bertaburan.

Di sinilah duniasantri yang membawa narasi literasi kesantrian di belakangnya harus secara masif bergerak dalam ruang-ruang itu. Meniscayakan suatu kepercayaan akses sebagai suatu pergerakan dakwah yang dimotori oleh para santri. Akan tetapi, dalam tahap tertentu, duniasantri bisa kalah dalam dinamika catur digital dengan media-media lain. Hal ini karena ketidaksiapan duniasantri itu sendiri, baik dari manajemen informasi maupun sistem operasional yang dijalankan.
Salah satunya adalah, kemandirian perangkat ilustrasi tulisan. Semua kontributor yang up tulisannya melalui kolom submit yang disediakan, dengan bebas memberikan ilustrasi terhadap tulisannya, kendati itu tidak jelas asal-usulnya. Sampai pada tahap pemuatan pun, kita tidak mendapati kejelasan sumber ilustrasi tulisan dari mana itu didapatkan.
Secara komparatif, sistem serupa, seperti di Kumparan, PinterPolitik, alif.id, atau Geotimes, hal-hal seperti itu menjadi pertimbangan ketat dalam pemuatan. Tulisan kadangkala ditolak karena ilustrasi yang diberikan tidak jelas sumbernya. Dalam taraf yang lebih apik lagi, tim redaksi media bersangkutan layouting ilustration melakukan penyesuaian dengan narasi tulisan. Sehingga tulisan bisa dengan efektif menyiratkan makna yang ada di dalamnya.
Selanjutnya, banyaknya kesalahan penulisan (typo) dalam satu tulisan. Tidak jarang dalam satu tulisan didapati beberapa, bahkan puluhan kesalahan. Hal ini mengindikasikan bahwa tahap kurasi yang ditempuh oleh tim redaksi masih lemah. Barangkali, kurasi tidak hanya mengoreksi kelayakan isi tulisan, melainkan juga penggunaan narasi, istilah-istilah, bangunan epistimologi, hingga yang paling terkecil adalah kesalahan penulisan.
