Menurut Kiai Yahya Cholil Staquf, salah satu tugas santri adalah memukan solusi dalam setiap persoalan publik. “Kita harus mencari jalan keluarnya, bersama-sama dengan manusia-manusia lain dan kita harus kembali kepada ukhuwah bashariah.” Hal ini menunjukkan bahwa santri adalah penjaga erat tali kasih antara sesama manusia, bukan berlatar kepentingan golongan, institusi, atau kepentingan politik tertentu. Dengan kata lain, santri adalah poros utama menjaga stabilitas kehidupan sosial. Ilustrasi santri rokok joinan adalah salah satu upaya berbagi bersama, dalam istilah Jawa ngumpul, guyup rukun, sesrawungan.
Dengan keterbukaan itu, Islam yang nantinya ada di tonggak generasi penerus bukan menjadi Islam yang tertutup, atau Islam yang diwarnai dengan pola pikir gumedhe (sombong), congkak, merasa paling benar dan paling “wah” sendiri; tetapi Islam berada pada tangan yang mau bebrayan dengan siapa pun. Berbeda iya, tetapi tidak menjadi batasan sinergitas dalam menjaga stabilitas kehidupan sosial.

Oleh sebab itu, santri bisa berada pada ruang dan kondisi apa pun. Kala ia menjadi seorang pemimpin, ia akan bertanggung jawab dengan posisi yang diembannya. Ketika ia menjadi rakyat biasa dan guru ngaji di kampung, ia akan mengamalkan ilmunya baik dengan mengajar atau menjadi cahaya di antara kegelapan moral sosial. Karena yang terpenting adalah membuka diri dan menjaga jati diri, membuka tangan dan merangkul sesama tanpa mengubah prinsip keimanan.
