Kedua, menjadi media kritis yang bisa membasmi hama atau isu yang tidak jelas. Beberapa kerusakan berpikir saat ini, salah satu lakonnya bisa berasal dari media, postingan, dan tulisan-tulisan yang tidak jelas. Tidak jelas kebenaran dan sumbernya, tidak jelas apa referensi yang digunakan. Sehingga, publik memerlukan media khusus untuk bisa menglarifikasi segala isu yang terjadi.
Merespon itu semua, beberapa media-media yang bersifat moderat, kritis, dan memiliki sumber yang jelas hadir di tengah-tengah masyarakat, sebut saja; NU Online (media keislaman terpopuler), Iqra.id, Alif.id, dan masih banyak lagi. Dan, duniasantri.co kemudian menjadi bagian dari media-media moderat tersebut. Tidak lain, salah satu ikhtiarnya adalah untuk menyelamatkan publik dari pemahaman yang kurang benar.

Ketiga, media yang loyal bagi saku penulisnya. Satu tahun menjadi penulis di media duniasantri.co adalah kebahagiaan tersendiri. Saya bisa menikmati status saya sebagai mahasiswa, santri, sekaligus menjadi penulis lepas dalam seketika. Media ini sangat loyal terhadap para authornya. Bagaimana tidak? Satu buah tulisan yang berhasil terbit dihargai dengan honor yang sepadan dan bahkan lebih dari cukup.
Sedikit bercerita, sampai saat ini (dalam waktu setahun) hasil honor yang saya dapatkan tidak sedikit. Bisa untuk membeli kitab Syarah Rawaiul Bayan atau bahkan kitab Lisanul Arabiy yang terkenal mahal di kalangan santri. Itupun, masih ada sisa kembalian. Keren bukan? Wassalam…
