Selanjutnya ada kolom Bintang, yang fungsinya untuk menarasikan prestasi-prestasi kaum santri. Contohnya, ada santri yang diterima kampus luar negeri, juara kaligrafi se-Asia Tenggara, lomba esai se-Asia Tenggara, juara olimpiade internasional, dan lain-lain. Ini bisa menepis tuduhan dan streteotype dari sebagain orang yang menganggap remeh para santri yang dianggap tidak mampu bersaing dengan orang non-pesantren.
Menulis itu suatu hal yang asik. Kenapa bisa asik? Karena otak yang tadinya berada pada ruang nyaman, dengan menulis dipaksa untuk memutar mengeluarkan percikan suatu ide kata-kata. Bagi yang masih pemula memang hal seperti itu sangat sulit. Makannya, untuk mengeluarkan ide kata-kata dari otak perlu dipancing dengan membaca referensi buku-buku/kitab-kitab. Bagi yang sudah asik terjun ke dunia literasi pasti mengatakan “sulit tapi seru”.

Sadar atau tidak, menulis akan menjadikan diri kita itu mempunyai value tersendiri. Will Durant berkata, “Scripta manent, verba volant” (kata yang tertulis akan abadi, kata yang terucap akan lenyap). Jika diresapi dengan segenap jiwa memang agak benar, bahwa suatu karya yang ditulis sampai kapanpun tetap hidup. Kalau sekadar kata-kata verbal pasti suatu saat akan lenyap, karena orang yang mengatakan juga pasti akan meninggal dan jika hanya ditaruh di otak, rasio memori otak manusia juga tidak panjang.
Maka dari itu, ulama dahulu mengajarkan kita untuk selalu berliterasi –membaca kemudian membuat karya tulis. Alhasil, banyak dari kitab turats karya ulama terdahulu tersebar di berbagai belahan dunia. Kalau di pondok pesantren lebih familiar dengan sebuat kitab kuning. Dengan adanya kitab turats tersebut, sebenarnya kritik halus kepada kita semua agar mewarisi tonggak estafet geliat literasi.
Memang keilmuan kita belum sehebat ulama terdahulu. Bila dibandingkan, mungkin terasa sangat jauh sekali selayaknya “baina sama’ wa sumurisat” (bagaikan langit dan sumur sat/sumur kering). Tentu keilmuan kita yang dikategori sumur sat, sehingga masih membutuhkan belajar, belajar, dan belajar. Sedangkan, ulama terdahulu telah memiliki kompetensi keilmuan menjulang tinggi, dan menguasai berbagai disiplin ilmu.
