Berdasarkan latar belakang tersebut, duniasantri turun pula ke gelanggang, tepat tanggal 17 Agustus 2019. Bukan hanya bermaksud menyeimbangkan dengan “dunia lain”, namun menandingi dan mengalahkannya. Agar para generasi muda tidak terjun ke ambang yang berbau “begituan”. Supaya kaum muda Islam tidak tergelincir pada pemahaman tertentu yang beda paham dengan ahlussunah wal jamaah.
Terlepas dari pembahasan tersebut, jujur saya sangat bahagia dan senang dengan hadirnya duniasantri yang mewadahi karya santri. Dari segala macam genre tulisan yang dalam tanda kutip layak dikonsumsi publik. Apa pun jenis tulisannya, jika senapas dengan visi duniasantri, besar kemungkinan akan diterbitkan. Tidak sampai di situ, setiap tulisan yang tayang, akan mendapat honorarium yang pantas. Lengkap sudah. Bakat tersalurkan, ide tersampaikan, dan masih dapat reward yang menyelamatkan kantung kering.

Pada ulang tahunnya yang ke-3 ini, duniasantri meminta tulisan khusus mengenai dirinya kepada para kontributor. Jarang sekali ada media yang sedemikian terbuka. Terbuka menerima kesan dan pesan. Tentu, maksud yang terkandung adalah agar duniasantri terus mengalami perkembangan sesuai keinginan bersama, senantiasa berbenah mengikuti kebutuhan zaman, dan menjadi yang terbaik. Karena ia mengusung manhaj al-muhafadzah ‘ala qadimis shalih wal akhdu bil jadidil ashlah.
Jika saya ditanyai bagaimana kesan selama menjadi kontibutor di duniasantri? Jawabannya adalah puas dan memuaskan. Puas ketika artikel saya yang belepotan dibenahi oleh editor yang baik hati. Puas saat artikel saya diterbitkan, lalu dibaca oleh para pembaca yang budiman. Serta memuaskan pada waktu apresiasi karya dari duniasantri telah masuk ke rekening. Meski itu bukan tujuan utama, tapi kepuasaan mana lagi yang hendak didustakan.
