Eccapan Tarjuman: Dari Dialektika hingga Supralogisnya

Kalimat yang diakhiri kata “insyāa Allah” itu, lebih terlihat sebagai dialektika hukum daripada hukum syariat. Selain itu, juga ada pembahasan tentang rebo wekasan, ruddât, mengadu kuda dan merpati (hal. 50-51). Bahkan rokok, tunangan yang boncengan, hingga model rambut pun tidak luput dari sorotan pengarang (hal. 52-53, & 80).

Dimensi Mistis Tarjūmān

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kebenaran yang dihasilkan hati dikenal dengan supralogis atau pengetahuan mistik menurut Ahmad, termasuk dalam hal keyakinan (2004: 15). Sementara Zainuddin (2018: 35) menuliskan, bahwa Pesantren al-Hamidy Banyuanyar juga diwarnai dengan pengetahuan mistis, terutama pada masa kepemimpinan KH Hamid Baqir. Penulis juga melihat itu dalam kitab Tarjūmān.

Misalnya, dalam pembahasan rajah untuk keselamatan (hal. 91-92). Juga tentang jimat dan pantangan suami istri saat istri sedang hamil (hal. 107-108).

Bagi penulis, pantangan tidak mencaci dan membunuh hewan dengan sengaja yang juga masyhur dalam budaya Jawa sebenarnya bisa diterima akal. Sebab, selain hal demikian itu tidak menyalahi hukum tertentu, menjaga diri sebagai harapan agar anak yang dikandung lebih baik  justru positif. 

Terlebih upaya itu berlanjut sebagaimana juga dijelaskan dalam halaman tersebut. Konteksnya sama dengan bulan puasa atau hari-hari besar lain yang kita rayakan. Di mana kita tiba-tiba tambah religius, nasionalis, sayang ibu saat perayaan, yang di luar momen itu justru tidak. Sebab, hamil bagi pasangan suami istri juga momen penting.

Simpulan

Secara umum bagi penulis, dimensi tasawuf dalam kitab ini terasa lebih kental dari dimensi lainnya. Sebab, pengarang kerap memberi ulasan perspektif tasawuf, serta banyaknya amalan yang direkomendasikan.

Misalnya, saat usia kehamilan, suami istri dianjurkan merendah diri dan mendekat pada Allah (taḍarru’ dan taqarrub) (hal. 107). Atau saat menjelaskan buruknya orang dengki, pengarang juga menerangkan cara melihat keburukan yang tengah menimpa dengan menganggap itu sebagai tanda jika kita sedang ditinggikan derajatnya oleh Allah (hal. 47). Bahwa, siapa yang sengsara di dunia akan senang di akhirat jika dihadapi dengan kesabaran dan keikhlasan. Wa Allāhu a’lam.

Tinggalkan Balasan