Inilah babak ketika kau bak bermandi arak. Pada mulanya kau melihat jejak berarak dalam lamat gerak. Kau termangu lama menunggu di pinggir waktu. Seperti bayang-bayang di antara alunan gelombang: mengambang. Kau pernah bimbang. Gamang untuk menimbang.
Tapi ini sebuah siang, Sayang. Dan matamu yang kadang layu itu menjadi nyalang. Kian jalang. Garang menantang.

Memang ada sesuatu yang berlalu di luar waktu. Ia bagai capung, seperti mengapung di antara kerumun mendung. Seperti lebah linglung oleh dengung mengepung gunung. Dan kau mulai waswas, rindumu bakal tetas pada batas yang rantas.
