Kau merasa terasing, terbanting. Kau merasa sendiri. Harus sendiri. Tapi ke mana harus pergi? Pergi yang membuat diri benar-benar bisa lari ke dalam resepsi sunyi? Terasing ke dalam bising hening? Dan sesuatu kemudian terjadi. Sebuah hari yang tak terperi.
Begitulah, setiap kali rasa itu marak, menabrak, mendobrak, sampai ke relung jiwa, tandas ke ulu hati. Hingga rasa itu meringkus diri. Hingga kau menjadi sesuatu yang khayali. Di luar dimensi. Dan kau tak pernah mengerti: semua hanya terasa seperti magi. Kemudian kau menjadi seringan awan. Melayap bersayap harap. Sampai ke sudut-sudut lindap. Sampai waktu tak lagi menderap.

Kau ingin berbagi tentang hari yang tak terperi, seperti rindu tak tentu tuju. Maka kau terus meniti, inci demi inci, ke mana angin membawamu pergi. Maka kau terus melintas, batas demi batas, ke mana rindu akan tetas. Maka kau terus menapak, babak demi babak, ke mana sumbu menyulut ledak.
