Emanasi Pemikiran Filsafat Al-Farabi

Terkait dengan emanasi (pancaran), Al-Farabi menjelaskan bahwa akal pertama (al-Aqlul Awwal) adalah wajibul wujud, yaitu eksistensi yang wajib ada tanpa diadakan dan tidak bersifat materi (inmaterial). Dengan cara memikirkan zat-Nya sendiri kemudian memunculkan alam semesta. Akal pertama (al-Aqlul Awwal) memikirkan zat-Nya sendiri dan melahirkan akal kedua (al-Aqlus Tsani).

Selanjutnya wujud kedua atau akal pertama menimbulkan langit yang pertama (al-Samau al-Awwal). Akal kedua berpikir tentang akal pertama menimbulkan akal ketiga. Akal ketiga kemudian memunculkan Akal keempat akal Saturnus, Akal keempat mewujudkan Akal kelima yang Yupiter, Akal kelima mewujudkan Akal keenam yaitu Mars, Akal keenam mewujudkan Akal Ketujuh yaitu Venus, Akal kedelapan mewujudkan Akan Kesembilan yaitu Merkury, dan Akal Kesembilan mewujudkan Akal Kesepuluh yaitu Bulan. Akal Kesepuluh tidak lagi mewujudkan akal-akal, melainkan mewujudkan bumi dan jiwa serta materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur alam, yaitu: api, udara, air, dan tanah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tentu saja konsep akal Al-Farabi tidak sejalan dengan sains modern saat ini. Di mana, menurut sains ilmiah, yang merupakan sumber dari segala sumber energi (main power) adalah matahari, bukan bulan. Sedangkan bulan merupakan benda angkasa yang disebut satelit. Cahaya bulan merupakan pantulan cahaya matahari. Hal yang menjadi pesan utama menurut konsep Al-Farabi terkait perwujudan adalah adanya emanasi, yaitu pancaran dari satu kewajiban wujud ke wujud berikutnya, yaitu mumkinul wujud (makhluk).

Wujud Tuhan dalam konsep teologi Al-Farabi adalah wajibul wujud. Keberadaannya tidak disebabkan oleh lainnya. Sedangkan alam semesta (makhluk) adalah mumkinul wujud. Keberadaannya (makhluk) karena adanya wajibul wujud, yaitu Allah swt. Wajibul Wujud tidak berupa materi, berbeda dengan makhluk, serta keberadaannya disebabkan oleh eksistensi diri-Nya sendiri. Tidak ada yang mengadakan, tidak bermula, dan kekal tidak berkesudahan. Berbeda dengan makhluk, kekal (menurut Al-Farabi), tetapi karena adanya zat Yang Mengekalkan.

Makhluk dalam pandangan Al-Farabi diciptakan dari sesuatu yang sebelumnya ada. Karena tidak mungkin, tidak logis, kalau sesuatu dicipta dari sesuatu yang tidak ada. Potensi ketuhanan (potential of God, power of God) adalah asal dari eksistensi terciptanya makhluk. Jadi, menurut Al-Farabi, adanya surga dan neraka dalam dimensi ruh, bukan dalam kondisi jasad sebagaimana dipahami oleh ulama Asy’ariyah. Konsep ini (Al-Farabi) sejalan dengan pemahaman Mu’tazilah.

Demikianlah konsep filsafat Al-Farabi terkait dengan ketuhanan, kenabian, iluminasi, emanasi, dan lain sebagainya. Menyelami dan mendalami konsep filsafat seseorang bukan perkara mudah. Ada banyak hal yang perlu direnungkan, dipikir lebih mendalam, serta dipahami dengan logisitas keilmuan. Dengan demikian kita tidak cenderung menyalahkan atau bahkan mengkafirkan, tetapi lebih kepada menghormati persoalan-persoalan yang dianggap masuk ke dalam reduksi pemikiran (baca: khilafiyah). Wallahu A’lam! 

Tinggalkan Balasan