Emosi Rakyat dan Kembalinya Demokrasi*

Ketika rakyat berani menunjukkan emosinya —baik dalam bentuk kritik, aksi, maupun partisipasi aktif— maka pesan jelas sampai kepada penguasa: kekuasaan bukan milik segelintir orang, tetapi milik rakyat. Emosi rakyat, jika diartikulasikan dengan baik, adalah alarm yang mengingatkan bahwa demokrasi tidak boleh dibajak.

Maka, ketika ada yang bertanya bagaimana cara mengembalikan demokrasi Indonesia agar lebih sehat, jawabannya sederhana: biarkan rakyat bersuara, biarkan rakyat mengekspresikan emosinya. Jangan bungkam kritik, jangan anggap sepi keluhan, jangan remehkan kemarahan. Dari situlah demokrasi mendapatkan marwahnya kembali.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Demokrasi bukan sekadar prosedur memilih, tetapi ruang di mana emosi rakyat diakui, diolah, dan diwujudkan menjadi kebijakan yang adil. Jika demokrasi kita terasa kering, tandanya rakyat sudah terlalu lama diam atau dibungkam. Maka, ketika rakyat meluapkan emosi (marah) terhadap ketidakadilan, kecewa pada elite, atau muak dengan korupsi, itu pertanda baik: demokrasi sedang dipanggil pulang.

*Naskah peserta workshop penulisan kreatif dan jurnalistik jejaring duniasantri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, 21-22 Agustus 2025.

Tinggalkan Balasan