Kasus Epstein File merupakan salah satu skandal hukum dan kemanusiaan paling serius dalam sejarah Amerika Serikat kontemporer. Skandal ini tidak hanya mengungkap praktik perdagangan seksual terhadap anak di bawah umur, tetapi juga memperlihatkan relasi problematis antara kekuasaan, modal, dan impunitas hukum. Dalam konteks ini, Epstein File tidak semata persoalan kriminal, melainkan krisis etika global yang relevan untuk dikaji dari perspektif moral dan teologi Islam.
Tulisan ini tidak ingin mendeskriditkan negara manapun. Ia sebatas kritik ilmiah terhadap persoalan kehidupan yang bisa muncul dari mana saja. Sebagai catatan akademik, bukan berarti terlepas dari kekeliruan. Namun, berdasarkan hasil observasi, tulisan ini dapat dipertanggungjawabkan. Penulis berusaha untuk memberikan data seakurat mungkin, berdasarkan data pustaka dari sumber yang paling relevan.

Karena penulis merupakan manusia biasa, bukan tidak mungkin ungkin tulisan ini terdapat kekeliruan. Oleh karena itu, diskusi ke arah perbaikan menjadi solusi agar ke depan semakin baik dan berkualitas.
Kasus Epstein File
Jeffrey Epstein, seorang finansier Amerika Serikat, ditangkap pada 2019 atas tuduhan sex trafficking terhadap anak di bawah umur. Berbagai dokumen hukum dan kesaksian korban mengungkap jaringan relasi Epstein dengan tokoh-tokoh elit politik dan ekonomi. Fakta ini menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat berfungsi sebagai pelindung kejahatan, bukan penegak keadilan.
Di berbagai platform pemberitaan, dijabarkan bagaimana Epstein mampu mengarahkan berbagai elit penguasa untuk melakukan hal-hal bejat. Karena Epstein memiliki reputasi ekonomi yang kuat, banyak penguasa yang menjadi kolega dan tunduk di bawah tekanan Epstein.
Fenomena tersebut sejalan dengan peringatan Al-Qur’an mengenai potensi penyalahgunaan kekuasaan oleh kelompok elit:
“Sekali-kali janganlah kamu mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.” (QS. Ibrahim: 42)
Ayat ini menegaskan bahwa keterlambatan atau kegagalan hukum dunia bukan berarti absennya keadilan secara keseluruhan. Realitas dalam kehidupan selalu ada orang-orang yang berbuat bejat dan zalim. Tetapi ingat, bahwa di balik setiap perbuatan ada Tuhan yang selalu jaga dan tidak lalai. Maka jika kemudian ter-speak up ke publik, itu adalah bagian dari cara Allah SWT untuk memberikan peringatan. Selanjutnya, akal manusia yang akan mengentaskan skandal tersebut dengan kebijakan logis.
