Jika manusia ingin memaksimalkan jaminan rezeki Allah sesuai ayat tersebut, maka mereka harus meniru gaya hewan dalam bertawakal dan kesederhanaan. Metode ini berhasil dipraktikkan secara sempurna oleh orang yang menyadari kehidupan akhirat lebih berarti dari dunia dan seisinya serta merindukan berjumpa Allah. Tanpa kesadaran itu, manusia sulit untuk melepas diri dari kenyamanan dunia.
Kelompok ini memilih hidup miskin atau fakir, karena merasa kenikmatan dunia tidak berarti dibandingkan dengan nikmatnya tawajuh (menghadap) Allah. Proses ini dapat diistilahkan tafqir al-nafsi atau faqir ikhtiar, usaha secara sadar untuk hidup miskin karena terdorong pengalaman spiritual untuk memilih jalan sufi. Orang-orang ini mulanya bergelimang harta, namun kemudian mewakafkan hartanya untuk agama dan kemanusiaan.

Mereka dapat membandingkan kenyaman dunia dan keistimewaan akhirat karena berpengalaman menjadi orang kaya atau penguasa, sekaligus menyelami secara serius spritualitas aplikatif, bukan sebatas teori doktrinal yang diindokrinasi melalui kegiatan pembelajaran parsial tanpa riyadhah (latihan) yang mendalam dengan bimbingan mursyid yang mempuni. Ada beberapa contoh tokoh muslim yang berhasil menjalani proses ini. Salah satunya adalah Khalifah Ustman.
Kita mengetahui bahwa Utsman termasuk golongan konglomerat pada zamannya. Kemudian dia menafkahkan sepertiga hartanya untuk agama Islam. Bahkan peninggalannya berupa sumur menjadi cikal bakal baitul maal di Madinah yang sampai detik ini masih ada dan terus dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Sosok ini menggambarkan proses transformasi ruhani dengan sempurna, meninggalkan kekayaan dunia demi kehidupan akhirat. Hartanya diinvestasikan untuk keberlanjutan dakwah Islam sebagai bentuk dedikasi tertinggi kepada Allah SWT.
Pertanyaan menggelitik sekarang, adakah di antara kita yang mampu melewati proses seperti yang dilakukan Utsman? Rasanya sulit dijumpai, kalau tidak mau dikatakan tidak ada. Umat Islam di dunia rata-rata berada dalam taraf fakir nasib, kondisi sulit finansial dan itu bukan pilihan yang disengaja malainkan karena desekan keadaan. Mayoritas kita tidak menghendaki hidup sengsara, sederhana, dan diliputi berbagai kekurangan.
