Fakir Nasib atau Fakir Ikhtiar?

Buktinya, orang-orang seperti kita ini bekerja mati-matian untuk mendapatkan rupiah bahkan hingga larut malam dan tidak kenal waktu. Ibadah wajib pun seperti salat lima waktu dilalaikan karena sibuk merawat tanaman di kebun atau berjualan di pasar dan lain sebagainya.

Jika kelompok ini merasa mampu mendahului Nabi Sulaiman masuk surga kerena kefakirannya, bukan karena rahmat Allah, rasanya tidak berlebihan jika mereka disebut orang-orang sombong. Mereka pantas dikatakan sombong kerena tidak tahu diri. Mereka lalai dengan salat dan ibadah lainnya. Mereka hanya sibuk mengejar dunia untuk sesuap nasi. Mereka bekerja di luar batas kewajaran, bahkan malam-malan berkebun atau berjualan di pasar. Kewajiban dirinya sebagai pemeluk agama Islam tidak dinomorsatukan, tetapi hanya dilaksanakan ketika sempat atau kesedihan menimpatnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita hendaknya menyadari bahwa orang fakir yang akan masuk surga terlebih dahulu sebelum orang kaya adalah orang-orang yang memilih hidup miskin dangan kesadaran penuh. Meraka adalah hartawan yang memilih hidup miskin agar fokus beribadah kepada Allah tanpa terganggu urusan dunia. Yang perlu digarisbawahi, mereka memilih miskin secara sadar dan atas pilihan sendiri, bukan karena desakan keadaan. Kemudian, mereka larut dalam aktivitas spritual secara totalitas dan tidak lagi menoleh pada hal yang berhubungan dengan keduniawian.

Bagi umat Islam, berada dalam garis kemiskinan atau kefakiran bukan pilihan (faqir nashibi). Seharusnya tidak terburu-buru mengaku dirinya tidak membutuhkan harta dan keduniaan lainnya. Mereka perlu bertanya pada dirinya apakah kondisi sehari-hari ini dilalui dengan penuh gembira atau malah sebaliknya. Bahagia itu terwujud karena pengalaman batin (spritual) yang didasari ilmu dan wawasan yang luas. Kelompok ini sering melakukan pembenaran (justification) akan kondisi sulitnya dengan fatwa dokrin keagamaan tentang keutamaan miskin. Tujuannya untuk menghibur diri, bukan karena menikmati hidup sederhana, berkontemplesi dan beribadah.

Pembenaran ini tidak cukup sabagai dasar untuk terus hidup di bawah garis kemiskinan. Suatu saat jika ada kesempatan untuk menjadi kaya, mereka tanpa pertimbangan akan memilih status kaya itu. Ini berbeda dengan orang yang “memiskin” diri, meskipun ada kesempatan kaya tetap tidak mau kerena itu bukan pilihan dan bukan tujuan hidupnya.

Tinggalkan Balasan