Fakta di Balik Hari Buku Nasional

Selanjutnya, ada program Free Cargo Literacy (FCL) atau ongkos Kirim Buku Gratis sejak Januari 2019. Dalam program ini, Kemendikbudristek menyediakan ongkos bagi para donatur buku yang mengirimkan buku-bukunya setiap bulan pada 17. Buku-buku ini selanjutnya dikirim ke daerah-daerah terpencil melalui pihak pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Indonesia.

Belakangan, Perpusnas RI menyediakan layanan inovasi e-book. Detailnya bisa diunduh melalui aplikasi Ipusnas dan IOS (Indonesia One Search) di Playstore, AppStore, atau web ipusnas.id untuk pengguna smartphone maupun komputer. Digitalisasi produk buku ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan akses membaca kepada masyarakat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Program-program tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia agar menjadi masyarakat yang literat, cerdas, kreatif, produktif, dan menghapus generasi miskin bacaan. Namun faktanya, kebanyakan masyarakat Indonesia masih terbilang sangat rendah dalam dunia literasi. Kalaupun ada artikel dan buku bagus, sebagian besar mereka hanya membaca judulnya, lalu men-share tanpa membaca isinya. Ketika ditanya apa isinya, mereka hanya menggeleng dan berucap “tidak tahu” sambil tersipu.

Mengutip dari laman Kementerian Dalam Negeri (2021), Indonesia ada di posisi ke-62 dari 70 negara, atau berada di 10 negara terbawah untuk masalah tingkat literasi. Survei tersebut pernah dilakukan oleh Program for International Student Assesment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019.

Sebelumnya, pada 2011 UNESCO mencatat hanya 1 dari 1000 orang di Indonesia gemar membaca, atau hanya 0,001 persen. Oleh karena itu, UNESCO menempatkan Indonesia sebagai negara terendah kedua untuk tingkat minat baca.

Sebuah riset Central Conecticut State University pada 2016  yang bertajuk World’s Most Literate Nation Ranked mencatat Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara untuk masalah minat baca. Posisi ini ada di bawah Thailand dan di atas Bostwana.

Pada 2018, lembaga riset digital marketing E-marketer menempatkan Indonesia sebagai peringkat kelima di dunia setelah Cina, India, dan Amerika dalam penggunaan smartphone. Menurut riset ini, 60 juta masyarakat Indonesia lebih menyukai menatap layar gadget daripada membaca buku. Sebelumnya, data Wearesocial per Januari 2017 mengungkap fakta bahwa masyarakat Indonesia menatap layar gadget lebih dari 9 jam per hari.

Tinggalkan Balasan