Feminisme sebagai Kritik atas Ilmu

Dalam pernyataan resminya, Rousseau mengatakan “… the family is only connected to society throught its head..”. “… when emile become your husband, he become your head…”. Lalu, “..when you become the head of family, you will become a citizen of your country”. Melalui pernyataan tersebut maskulinitas sangaltah terlihat kentara. Hanya laki-laki yang menjadi warga negara, hanya laki-laki yang dapat melakukan kontrak dengan komunitas di luar kotanya. Kedudukan perempuan dan anak-anak dalam bermasyarakat hanya diwakili melalui laki-laki.

Lebih lanjut, Durkheim pun mengatakan hal serupa. Baginya, perempuan memiliki fungsi estetis yang hanya dapat mengerjakan pekerjaan domestik, sedangkan laki-laki memainkan fungsi-fungsi instrumen. Dan parahnya, ia juga menganggap perempuan terhambat dalam kapasitas intelektualnya, sedangkan laki-laki memiliki intelektual yang lebih besar dan pesat (Hidayat, 2020).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada ilmu-ilmu lain juga demikian. Weinrich Haste mengungkap bahwa kalangan akademisi juga mengasosiasikan ilmu dengan sifat maskulin, sedangkan seni bersifat feminin. Lebih lanjut ia juga mengungkap terjadinya klasifikasi gender pada keilmuan tertentu. Misalnya, biologi dan psikologi lebih bersifat feminine sementara ilmu politik, ekonomi, matematika, sosiologi sangat kental dengan maskulin (Haste, 1986).

Menjadi bahaya ketika teori yang memiliki nada serupa (genderisasi ilmu) meluas ke seluruh bidang pengetahuan dan melanggengkannya dalam kegiatan belajar-mengajar secara formal maupun non-formal. Seyogyanya, arah gerak intelektual feminsime terus digalakkan dan produksi kritik-kritik terhadap ilmu harus dikaji secara masif dan disebarkan secara komprehensif.

Tinggalkan Balasan