Kedua, dalam memahami relasi antara agama dan politik, paradigma politik mereka lebih kepada formalistik-integralistik, berbeda dengan Muhammadiyah yang moderat-subtantif. Jadi, menurut kelompok-kelompok terebut dengan menggunakan paradigma ini, Islam tidak hanya menjadi doktrin keagamaan yang membimbing manusia dalam segi spriritual saja, melainkan juga dalam hal ketatanegaraan. Makanya, mereka sangat vokal dalam berbicara isu khilafahisme, ketidak-setujuan kepada Pancasila, dan hal-hal formalistik lainnya.
Meskipun mereka mengklaim diri sebagai kader Muhammadiyah, namun secara praktik dan sikapnya jelas sangat berbeda. Lalu, apa yang menjadi sebab Muhammadiyah rawan ditunggangi oleh ideologi-ideologi demikian?

Rawannya Muhammadiyah terinflitrasi oleh ideologi kelompok Islam transnasional adalah karena konsep tajdid yang diusung Muhammadiyah sendiri. Konsep pembaharuan dalam Muhammadiyah bukan hanya menjadikannya terbuka dan responsif terhadap kelompok lain, namun juga rawan kebablasan dalam menerima ideologi Islam transnasional dari Timur Tengah tersebut.
Belum lagi, gerakan tanzih (pemurnian) di tubuh Muhammadiyah sekilas mirip dengan gerakan Islam transnasional, sehingga kesempatan ini menjadikan Muhammadiyah sebagai sarang yang nyaman bagi bertenggernya ideologi-ideologi radikalis tersebut. Gus Sholih menyebutnya sebagai perebutan dominasi kuasa ideologi.
Jadi—kata Gus Sholih—dinamika pola pikir aktivis Muhammadiyah yang mulai tertarik pada ideologi Islam transnasional tersebut akan menyebabkan radikalisasi ideologi. Pemahaman mereka terhadap sosial agama akan lebih mengeras. Sehingga wajah Muhammadiyah yang moderat, tawazun, dan rahmatan lil ‘alamin akan berubah radikal, formalis, dan homogin.
