Jika mengikuti arahan dari al-Qadhi Abu Ya’la -ulama mazhab Hambali–, mempelajari ilmu fikih didahulukan daripada mempelajari ilmu ushul fikih. Ini sebagaimana yang beliau kemukakan saat memberikan pengantar di salah satu kitabnya, al-Uddah Fi Ushul Fiqh. Dalam pengantar kitab ushul fikihnya ini, beliau berdawuh sebagaimana berikut:
ولا يجوز أن تعلم هذه الأصول قبل النظر في الفروع؛ لأن من لم يعتد طرق الفروع والتصرف فيها، لا يمكنه الوقوف على ما يبتغي بهذه الأصول من الاستدلال والتصرف في وجوه القياس والمواضع التي يقصد بالكلام إليها

Artinya: “Tidak boleh mempelajari ilmu ushul (fikih) ini sebelum melihat furunya (ilmu fikih). Hal ini karena orang yang menganggap (mempelajari) furu dan berinteraksi dengannya, maka ia tak mungkin untuk mengetahui hal-hal yang semestinya diketahui dalam ilmu ushul fikih, berupa cara istidlal dan interaksi dengan bebagai aspek qiyas dan poin-poin pembahasan lainnya yang menjadi objek kajiannya ilmu ushul fikih.”
Dari penjelasan tersebut, kita bisa membaca dan memahami bahwa beliau menganjurkan untuk mempelajari ilmu fikih daripada ilmu ushul fikih. Pendapat ini diperkuat oleh pen-tahqiq kitabnya, yaitu Dr Ahmad bin Ali al-Mubaraki. Menurutnya, apa yang dipahami dari ibarat di atas merupakan pendapatnya mushannif.
Berbeda dengan pendapat di atas, yaitu pendapatnya Imam Ibnu Uqail. Menurut beliau, yang mesti didahulukan antara keduanya adalah mempelajari ilmu ushul fikih. Hal ini sebagaimana yang dikutip oleh Alaa’ ad-Din al-Mardawi dalam kitabnya Tahrir al-Manqul –kitab mukhtashar (ringkasan) ilmu ushul fikih mazhab Hambali— sebagaimana berikut:
فَيجب تَقْدِيم مَعْرفَتهَا على الْفُرُوع عِنْد ابْن عقيل، وَابْن الْبَنَّا وَجمع .مِنْهُم: القَاضِي عبد الْجَبَّار المعتزلي، وَغَيرهم، ليتَمَكَّن بهَا من معرفَة الْفُرُوع
Artinya: “Wajib mendahulukan dalam mengetahui (mempelajari) ilmu ushul fikih daripada ilmu furu’ (ilmu fikih) menurut Ibnu Uqail, Ibnu al-Bnna dan sekelompok ulama. Di antaranya adalah Imam al-Qadhi abdu al-Jabbar (ulama Mu’tazilah) dan ulama-ulama lainnya. Hal ini agar mampu mengetahui ilmu fikih secara holistik dengan bantuan ilmu ushul fikih.”
