
Wajah Fikih Nusantara
Gelar doktor kehormatan tersebut merupakan buah dari perjalanan dan perjuangan Kiai Afif dalam menggeluti dunia keilmuan, khususnya di bidang fikih dan ushul fikih. Kiai Afif lahir Sampang, Madura, Jawa Timur, pada 20 Mei 1955.

Perjalanan keilmuan Kiai Afif terbilang unik. Pada umumnya, kiai-kiai besar khususnya di lingkungan nadliyin memiliki sanad keilmuan yang “mentereng”. Ngaji kepada banyak kiai besar di pesantren-pesantren ternama. Tapi tidak dengan Kiai Afif.
Sejak muda, Kiai Afif hanya tekun nyantri di satu pesantren, yaitu Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo. Di pesantren inilah Kiai Afif menuntaskan seluruh jenjang studinya dari madrasah ibtidaiyah hingga sarjana. Namun, sejak usia 20 tahun, Kiai Afif telah menjadi pangajar di pesantren tersebut dan hingga kini tercatat sebagai Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo sekaligus Wakil Pengasuh Bidang Ilmiah.
Banyak kitab yang telah diajarkan Kiai Afif selama di pesantren itu, di antaranya Jurumiyah, Kailani, Risalatul Mu’awanah, Nasha’ih al-Diniyah, Matn Zubad, Riyadh al-Shalihin, Fathul Mu’in, Iqna’, Fathul Wahhab, Ghayatul Ushul, dan Syarah Jam’ul Jawami. Selain itu, Kiai Afif juga menulis kitab sendiri, di antaranya Fath al-Mujib al-Qarib Syarh Matan al-Taqrib. Saat ini, Kiai Afif tercatat sebagai dosen di Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam Universitas Ibrahimy, dosen Ma’had Aly Situbondo konsentrasi Studi Fikih dan Ushul Fikih, dan dosen pascasarjana konsentrasi hukum Islam.
Berkat ketekunannya mendalami fikih dan ushul fikih, Kiai Afif dinilai sebagai sosok mencerahkan yang mampu menghadirkan perspektif fikih komtemporer di Indonesia. Misalnya tentang bagaimana menyikapi bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari perspektif syariah.
