Walaupun ini mungkin adalah salah satu bentuk frustrasi yang wajar, tapi tetap keliru. Karena jika satu orang melakukan kesalahan, lalu kita menyalahkan seluruh golongannya, maka kita sedang mengulangi kebiasaan yang mengandung dosa dan dapat mengganggu akal sehat, yaitu suuzon atau prasangka buruk.
Islam sendiri mengajarkan prinsip tabayyun. Kita diajarkan untuk menyelidiki terlebih dahulu sebelum menilai. Rasulullah pun tidak menilai seseorang dari pakaian, nasab, atau retorika. Ia menilai dari akhlak dan kejujuran. Maka seharusnya kita pun belajar membedakan antara satu orang dan satu golongan.

Padahal kita tahu, tokoh seperti Habib Ali Al-Jufri, Habib Umar bin Hafidz, Gus Baha’, atau Gus Mus, adalah contoh ulama yang hidup dalam kesederhanaan dan keilmuan mendalam. Mereka tidak tampil minta dihormati. Bahkan banyak dari mereka tidak dikenal oleh media karena memilih hidup tenang di pesantren. Tapi karena satu dua tokoh menyimpang dan viral, yang lain ikut terseret dalam vonis publik.
Generalisasi semacam ini bukan hanya tidak adil —ia berbahaya. Ia menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap ilmu, terhadap tradisi, terhadap warisan moral yang selama ini dijaga oleh banyak ulama yang tidak pernah tampil di layar kaca.
Media Sosial, Algoritma, dan Bencana Kognitif
Kita hidup dalam era ketika persepsi dibentuk lebih cepat daripada fakta. Di media sosial, potongan video bisa lebih kuat daripada penelitian bertahun-tahun. Satu cuplikan ceramah, satu gaya bicara yang meledak-ledak, bisa viral dan membentuk opini nasional.
Masalahnya, algoritma tidak tahu mana yang bernilai dan mana yang hanya sensasi. Ia hanya tahu apa yang bisa memancing klik. Dan publik kita, yang belum terbiasa dengan literasi berpikir kritis, terjebak dalam permainan ini. Mereka menilai tokoh hanya dari dua menit video dan menyimpulkan watak seseorang dari caption provokatif.
Dari sinilah lahir satu bentuk cacat logika: false dichotomy —seolah-olah hanya ada dua pilihan: membela semua ulama tanpa syarat atau menghujat semua sebagai penipu. Kita gagal melihat bahwa dunia tidak terbagi secara kaku. Selalu ada ruang di tengah yang memerlukan pemahaman, kehati-hatian, dan kebijaksanaan.
