Waktu terus berjalan, dan saya lulus dari pesantren. Kini, di tengah hiruk pikuk kota, saya hidup sendiri. Makan siang sering kali saya habiskan di depan laptop, dengan piring berisi nasi dan lauk yang hanya cukup untuk saya. Tidak ada lagi pembicaraan riuh, canda tawa, atau saling berebut lauk yang menjadi bagian dari “ritual” makan. Saya mendapati diri saya merindukan saat-saat itu. Di sinilah saya menyadari bahwa nampan santri bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang filosofi kebersamaan yang mendalam.
Nampan itu mengajarkan kami untuk berbagi, bahkan dalam porsi yang terbatas. Ia memaksa kami untuk berinteraksi, berdiskusi, dan saling peduli. Jika ada teman yang terlambat, kami akan sisakan porsi terbaik untuknya. Saat ada teman yang kurang suka dengan lauk tertentu, yang lain akan dengan senang hati mengambil porsinya.

Nampan menjadi saksi bisu dari setiap cerita, setiap tawa, dan setiap keluh kesah kami. Ini adalah pelajaran tentang solidaritas yang diajarkan bukan melalui ceramah, melainkan melalui tindakan sederhana setiap hari.
Seperti kata Gus Makmun, “Santri itu hidupnya harus qana’ah (merasa cukup).” Nampan santri adalah wujud nyata dari ajaran itu. Kami diajarkan untuk bersyukur dengan apa yang ada, tidak serakah, dan selalu mengingat bahwa rezeki yang kami terima adalah rezeki yang juga harus dibagikan dengan orang lain. Ini adalah cara pesantren menanamkan nilai-nilai luhur dalam keseharian kami, membentuk karakter yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kaya akan budi pekerti.

Sangat mengena😔