Saban pagi di Pondok Induk Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, aroma khas menyebar dari dapur santri. Bukan aroma masakan mewah, melainkan perpaduan sederhana dari nasi, sayur, dan lauk seadanya yang dimasak dalam porsi besar.
Di sudut-sudut pondok, para santri mulai bersiap, bukan untuk mengaji, melainkan untuk mengambil nampan. Bundaran nampan-nampan berukuran besar itu bukan sekadar wadah makanan, melainkan panggung kecil di mana sebuah ritual harian terjadi. Setiap nampan akan diisi untuk lima hingga enam santri, yang kemudian mereka bawa ke tempat masing-masing untuk makan bersama.

Makna Tersembunyi
Dulu, bagi saya, nampan itu adalah simbol kerumitan. Setiap kali waktu makan tiba, saya harus mencari teman-teman satu nampan, memastikan porsi lauk merata, dan terkadang harus mengalah jika ada lauk yang saya suka habis duluan. Terkadang, saya merasa lebih nyaman makan sendiri, tanpa harus memikirkan orang lain. Saya menganggap sebagai rutinitas yang merepotkan dan tidak efisien. Saya berpikir, “Kenapa tidak makan di piring masing-masing saja?”

Sangat mengena😔