Di pesantren, santri pun sering berada dalam dilema semacam ini. Mereka meninggalkan rumah, menggantung ambisi duniawi, mengaji kitab-kitab yang bahkan tidak menjanjikan popularitas. Semua itu dilakukan bukan karena pasti, tetapi karena yakin. Mereka tidak hidup dalam kepastian, tapi dalam iman.
Kurban Eksistensial

Apa yang dikurbankan oleh santri?
Barangkali bukan domba. Bukan sapi. Tapi masa mudanya, pilihan hidupnya, bahkan kadang masa depannya. Ia mengurbankan kenyamanan demi makna. Memilih diam, di saat dunia berisik tentang pencapaian. Memilih belajar yang tak populer, di saat semua orang mengejar viralitas.
Filsuf Prancis, Albert Camus, pernah berkata: “To live is to revolt.” Tapi santri justru menjawab: “To live is to surrender.” Bukan dalam arti pasrah kalah, tapi menyerahkan kehendak kepada sesuatu yang lebih agung—seperti Ibrahim menyerahkan Ismail-nya, dan seperti Ismail menyerahkan dirinya.
