Filsafat Kurban: Tafsir Sunyi Seorang Santri

Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan. Bagi santri, ia adalah ajakan untuk kembali menafsir: sejauh mana hidup ini telah diberi makna? Apakah kita masih menjadi hamba, atau diam-diam telah menjadi tuan atas diri sendiri?

Di sela-sela penyembelihan, ketika darah menetes dan daging dibungkus, ada ruang sunyi di mana para santri merenung. Tak banyak yang mereka katakan, tapi dalam hati mereka tahu: kurban sejati adalah ketika kita berani menyerahkan sesuatu yang paling kita cintai, kepada Zat yang mencintai kita tanpa syarat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Filsafat modern sering membanggakan kebebasan berpikir, otonomi manusia, dan eksistensi yang absurd. Tapi Idul Adha mengajarkan hal yang lebih tua, lebih dalam: bahwa ketundukan bukan kebodohan, tapi puncak dari kesadaran terdalam manusia, ketika ia mengakui bahwa dirinya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri.

Dan di situlah santri hidup. Di antara pertanyaan-pertanyaan besar, di antara kitab kuning dan sujud malam, mereka belajar menjadi manusia yang tidak ingin menguasai, tetapi bersedia dilepaskan.

Tinggalkan Balasan