
Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan. Bagi santri, ia adalah ajakan untuk kembali menafsir: sejauh mana hidup ini telah diberi makna? Apakah kita masih menjadi hamba, atau diam-diam telah menjadi tuan atas diri sendiri?
Di sela-sela penyembelihan, ketika darah menetes dan daging dibungkus, ada ruang sunyi di mana para santri merenung. Tak banyak yang mereka katakan, tapi dalam hati mereka tahu: kurban sejati adalah ketika kita berani menyerahkan sesuatu yang paling kita cintai, kepada Zat yang mencintai kita tanpa syarat.

Filsafat modern sering membanggakan kebebasan berpikir, otonomi manusia, dan eksistensi yang absurd. Tapi Idul Adha mengajarkan hal yang lebih tua, lebih dalam: bahwa ketundukan bukan kebodohan, tapi puncak dari kesadaran terdalam manusia, ketika ia mengakui bahwa dirinya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri.
Dan di situlah santri hidup. Di antara pertanyaan-pertanyaan besar, di antara kitab kuning dan sujud malam, mereka belajar menjadi manusia yang tidak ingin menguasai, tetapi bersedia dilepaskan.
