Sekarang, aku hanya bisa melihat mereka tanpa bisa ada di sisisnya, tak bisa bernostalgia meski aku ada didekat mereka, lebih miris mereka tidak akan bisa melihatku dengan mata telanjang. Sungguh aku sangat menyayangkan hal ini terjadi, tapi karena ini sudah tertera dalam buku-Nya, apalah daya yang bisa aku lakukan.
Aku telah pergi jauh, jauh dan takkan pernah kembali. Kenangan-kenangan itu menjadi obat saat aku ingin berkumpul dengan mereka. Aku sedikit bersyukur meski tidak ada didekat mereka, sebab setiap kali kulihat, mereka selalu tanpa bahagia nan ceria.

Dalam keadaan tubuh yang gigil tak kurasa ini, aku melihat mereka dari kejauhan. Jelas sekali aku mendengar suara anak perempuanku. Meski bising daun yang terkena tetesan air membuat sumbang, hal itu tidak berpengaruh padaku. Sebab aku hanya kumpulan asap ciptaan-Nya.
“Aku rindu kalian,”ucapku parau dalam guyuran hujan.
***
Aku masih menunggu hujan reda, sambil terus membayangkan senyum Zahra dan Datin yang mengelilingi. Jam sudah pukul lima sore, namun lelaki itu tetap berdiri dalam hujan dan memandangku dengan tatapan nanar. Aku merasa canggung dan cepat-cepat aku memanggil ibu.
“Ibu, itu siapa?” panggilku sambil menunjuk lelaki yang berdiri dalam hujan itu.
Ibu melangkah pelan ke arahku, penasaran dengan lelaki yang aku maksud. Ketika melihat air yang berjatuhan, pandangan ibu seolah melamun, sebab retina matanya menerawang kelangit-langit rumah. Apa ibu meramu kenangan di saat hujan. Tebakku melihat mimik ibu dan tatapannya yang fokus pada hujan.
