Fragmen Rindu

“Lelaki siapa, Nak?”Tanya ibu saat ada didekatku.

“Lelaki yang memakai baju putih itu, Bu.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ibu langsung melempar pandang, menatap lamat-lamat lelaki yang berdiri jauh di seberang jalan. Tiba-tiba ibu terhenyak, mata ibu membening dengan disusul embun-embun tetes. Mengapa mata ibu membening? Tanyaku setelah selesai melihat mata ibu.

Aku memanggil-manggil ibu dengan pelan, namun tak ada respons. Ibu tetap memandang kaku lelaki itu dengan tatapan tajam pula. Mungkin ada sesuatu yang ibu kenal dari lelaki itu. Entah untuk yang kesekian kali aku bertanya. Karena merasa diacuhkan aku menyentuh tangan ibu, barulah ibu merespons panggilanku, dan satu butir air mengalir di pipi ibu, pelan melewati garis-garis senyum yang keriput.

“Siapa lelaki itu, Bu?”

Dingin mendekap lekat, membuat tubuhku menggigil. Tapi aku tak menghiraukannya, sebab tanya penyebab ibu  menatap lamat lelaki di seberang jalan itu bergantungan dalam kepala. Diam menjadi sumbu penasaran paling dangkal dalam pikiran.

“Itu ayahmu yang telah lama pergi, Nak,” jawab ibu dengan raut wajah kesedihan.

Seketika hening, hanya dentuman air hujan yang berpantulan di genting-genting mencipta tebing rindu yang tak mampu diterobos waktu dan membentuk muara akibat tangis yang pelan berjatuhan.

Tinggalkan Balasan