Pertama, pesantren melatih kemandirian. Artinya, dalam pesantren, seorang santri dituntut untuk mandiri. Mandiri di sini, seorang santri harus bisa melakukan apapun sendiri. Di pesantren apapun yang dilakukan santri yang sudah dilepas oleh orang tua diserahkan kepada pengasuh sebagai orang tua di pesantren. Seorang santri selalu menyiapkan kebutuhannya sendiri. Seperti membersihkan pakaian, menyiapkan makanan, menyiapkan peralatan sekolah, dan lainnya lagi. Di sini kemandirian seorang santri terbentuk. Awalnya memang susah melakukan semua itu. Semula yang awalnya masih dibantu orang tua, di pesantren harus dilakukan sendiri. Jika santri tidak cepat beradaptasi dengan lingkungan pesantren, maka akan susah untuk mandiri dan enjoy dengan kehidupan pesantren.
Kedua, pesantren mengajarkan akhlak yang baik. Artinya, seorang santri pasti mengaji bab akhlak seperti kitab Ta’lim Muta’alim, Tanbihul Muta’alim, atau lainnya. Dari kitab itu, akhlak yang diajarkan adalah akhlak yang baik, baik kepada guru, kepada orang tua, kepada orang lain, dan lainnya yang ada dalam masyarakat. Santri luar biasa akhlaknya. Akhlak yang diajarkan dan dibentuk oleh pengasuh atau lainnya sangat menghargai kepada semua orang. Seperti contoh ketika santri melewati ustaz atau abah atau lainnya, pasti menunduk. Itu salah satu contoh akhlak yang diajarkan. Selain itu, dalam pergaulan sehari-hari ketika santri bergabung dengan anak lainnya terlihat adab yang dimiliki santri. Santri lebih menghargai dan sopan.

Ketiga, pesantren melatih hidup bermasyarakat. Maknanya, dalam kehidupan pesantren bergabung dengan santri lain. Dari sini santri dilatih untuk bermasyarakat. Pesantren adalah miniatur masyarakat. Dalam pesantren, semua karakter ada. Di sini santri harus bisa menyesuaikan diri dan menempatkan di sana. Seperti contohnya, ketika seorang santri mencuci baju, harus bergantian dengan santri yang lain karena jemurannya terbatas. Atau ghosob, pemakaian/ pencurian yang sudah sangat wajar dalam dunia pesantren. Santri dilatih sabar menghadapi itu, seperti halnya dalam masyarakat, ada saja orang yang suka membawa barang yang bukan miliknya walaupun hal yang sepele.
Keempat, pesantren melatih kedispilinan. Maksudnya, dalam dunia pesantren seorang santri harus bisa meletakkan kedisplinan dalam dirinya. Kedisiplinan untuk menjalankan kewajiban dalam pesantren seperti mengaji. Mengaji memiliki waktu tertentu dan santri harus tepat waktu dalam mengaji. Misal di pagi hari, mengaji pagi maka harus bangun pagi dan membersihkan diri lalu pergi mengaji tepat waktu. Kedisiplinan harus melekat pada seorang santri.
Kelima, pesantren melatih manajeman. Artinya, dalam kehidupan pesantren seorang santri harus bisa memanajemen waktu dan keuangan. Di pesantren, tak dimungkiri jika seorang santri kesulitan membagi waktunya. Apalagi dengan adanya teman yang banyak, tidak sedikit yang tergoda untuk bermain-main saja dan melupakan tujuan utama datang ke pesantren. Tidur yang terlalu larut dan bangun yang kesiangan pasti pernah dialami santri. Hingga pergi ke sekolah tanpa mandi. Di sisi lain, di sekolah kerap mengantuk karena tidur terlalu larut. Namun berbeda dengan yang bisa memanajemen waktunya. Dia akan bisa membagi waktu dengan tepat dan merata.
