Menurut Munif Chatib (2009), sekolah tidak berhak memetakan kategori etis dan nonetis pada siswa. Karena sekolah bukan surga, tempat orang baik dengan segala statusnya berkumpul. Apa pun kondisi dan latar belakang siswa, pasti terdapat potensi besar yang tertanam. Persoalan ada perbedaan “latar belakang” sudah menjadi tugas sekolah untuk memodifikasinya.
Tetapi faktanya, sekolah seringkali menolak bahkan cuci tangan setiap menghadapi siswa dengan latar belakang yang berbeda. Guru tidak mau ambil pusing dalam menghadapi problem vital ini. Tidak jarang, siswa harus harus memutus ikatan suci dengan lingkungan sekolah, bahkan dengan dunia pendidikan.

Barangkali, film besutan sutradara Sanjay Leela Banshali merupakan gambaran serta kritikan untuk dunia pendidik dimana saja, untuk bisa merangkul sekian perbedaan dan memodifikasinya menjadi insan yang terdidik. Tanpa melihat latar belakang dan status dari masing-masing siswanya.
Karena pada hakikatnya, siswa bukanlah anak ajaib yang dikirimkan Tuhan dari surga, sehingga mereka tidak mempunyai noda. Walhasil, film “Gangubai Kathiawadi” kaya akan pesan moral dan menjadi saksi dari pergulatan batin seorang Ganga Harjeevandas Kathiawadi untuk memperjuangkan hak dan martabat perempuan. Wallahu A’lam
