Oleh ibu-ibu kami, gaplek-gaplek itu kemudian ditiris, dicuci, diambil kulit tipisnya, lalu dipotong kecil-kecil, pendek-pendek. Masih diperlukan satu malam lagi, di bawah terang ublik, gaplek-gaplek itu diremdam dengan air bersih.
Saat pagi tiba, ibu-ibu kami akan mengukusnya selama dua jam. Potongan-potongan gaplek itu kemudian ditaburi gula merah, sedikit garam, dan diurapi kelapa.

“Mulai sekarang kita makan gatot,” begitulah kata ibu-ibu kami, atau ayah-ayah kami, kepada anak-anaknya, saat menu sarapan terhidang.
Kami ragu untuk memakannya. Belum pernah kami melihat ada makanan “buruk rupa” seperti ini. Tapi memang tak ada pilihan. Akhirnya kami telan juga si gatot ini, yang membawa sensasi baru untuk sebuah makanan: kenyal, manis, gurih.
Itulah untuk kali pertama saya mengenal gatot.

Lebih merasa membaca cerpen daripada membaca opini, tapi tetap dapat dinikmati 👍👍👍