Gatot

Saat itu masa puso. Entah karena hama wereng atau sebab lain, sawah-sawah gagal panen. Tanaman padi gabuk semua. Tak ada gabah yang bisa dibawa pulang, untuk ditumbuk menjadi beras, untuk ditanak sebagai nasi. Itu tak hanya terjadi di desa kami. Tapi juga di desa-desa lain, nun jauh di sana. Bumi seakan tak mau lagi memproduksi padi, apa yang selama ini kami makan sehari-hari.

Wajah-wajah murung mewarnai desa kami. Kemiskinan dan kelaparan mulai mengancam. Itulah kenapa, ayah-ayah kami kemudian lebih sering ke ladang atau pekarangan untuk menanam singkong sebanyak yang mereka bisa. Agar kami, terutama pasti anak-anaknya, bisa saban waktu mengunyah si gatot ini. Dan tak lagi kelaparan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kenapa si “hitam-kenyal” ini dinamai gatot, saat itu kami tak pernah tahu, tak perlu merasa tahu. Yang pasti, lambat laun saya melupakan nama itu ketika berangsur-angsur masa puso itu berlalu, ketika Bumi kembali memproduksi padi sebanyak yang kami mau.

Bertahun-tahun kemudian, saat saya masih diberi waktu untuk hidup di zaman digital, dunianya generasi milenial, sayup-sayup mulai terdengar lagi nama si gatot ini: ia telah “naik kelas”, berubah menjadi makanan tradisional orang Jawa. Di kamus-kamus kuliner ia disebut sebagai makanan khas Jawa. Dan dari kamus-kamus kuliner itu akhirnya saya tahu bahwa nama gatot merupakan akronim dari “gagal total” yang menggambarkan masa puso itu, ketika Jawa mengalami kegagalan total dalam panen.

Berbeda dengan masa kanak-kanak saya dulu. Jika hari-hari ini mulai banyak orang menanam singkong, membuat gaplek, membikin gatot, itu bukan karena masa puso, bukan karena sawah-sawah gagal panen, bukan karena ancaman kelaparan. Gatot telah menjadi bagian dari industri pariwisata. Mengunyah gatot, selain enak dan menyehatkan, juga untuk berekreasi ke masa lalu. Mengenang-ngenang akan masa kegagalan itu.

One Reply to “Gatot”

Tinggalkan Balasan