Dalam buku ini juga digambarkan sosok Gayatri semasa kecil belajar dengan tekun kepada ayahnya, yang tak lain adalah Raja Singhasari tentang berbagai macam ilmu. Gayatri belajar dan terus belajar kepada ayahnya. Bahkan, untuk memenuhi kehausan pengetahuan Gayatri, dihadirkan orang mulia bernama Terenavindu, salah satu resi Budhis yang paling terpelajar, untuk menjadi guru paro waktu Gayatri. Guru tersebut mengajarkan tentang topik-topik serius yang meliputi nalar manusia, kajian kepercayaan Budha-Hindu, peribadatan, yoga, dan meditasi.
Tidak hanya itu, Gayatri tumbuh kembang dalam bimbingan para bijak bestari sambil terus belajar berkuda dengan para prajurit, memanah, dan ilmu kenegaraan. Gayatri terus belajar kepada ayahnya tentang persatuan dan kesatuan Nusantara hingga kelak, dengan ide-konsep yang diberikan Gayatri-lah, lahir sosok patih luar biasa yang mampu menyatukan Nusantara dari ujung ke ujung dengan sumpah yang menggema, Sumpah Palapa yang dicetuskan oleh Mahapatih Gajah Mada sewaktu pelantikan di depan kerabat istana.

Konsep persatuan dan kesatuan Nusantara diperoleh Raden Wijaya dari Gayatri dengan berbagai macam diskusi dan tukar pendapat. Apa yang diungkapkan Gayatri kepada Raden Wijaya tidak lain adalah tangan panjang penguasa Singhasari, Prabu Kertangera, yang mempunyai sisi-misi menyatukan Nusantara dan juga negara bawahannya.
Selanjutnya, bagaimana trik maupun strategi yang harus dilakukan untuk menghalau serangan dari pasukan Mongol yang datang pada 1293 M dengan tujuan membumihanguskan Jawa. Hingga akhirnya, berkat strategi jitu dan apik, Raden Wijaya dengan pasukannya mampu menggilas Kediri sebagai balasan setimpal dan pasukan Mongol sebagai bentuk perlawanan dan mempertahankan kesatuan dan persatuan Nusantara saat itu.
Tak sampai di situ saja. Fakta menarik selanjutnya bahwa pernikahan Gayatri dengan Raden Wijaya melahirkan dua putri, Tribuwana Wijayatunggadewi dan Dyah Wiyat. Keduanya terpilih menjadi seorang Ratu memimpin Kerajaan Majapahit dengan dikawal dan dibimbing Ibusuri Gayatri sampai pemerintahan selesai. Puncaknya, kelak satu dari dua putri ini melahirkan cucu Gayatri, Hayam Wuruk yang menjadi Raja Majapahit yang mampu menyatukan Nusantara melalui tangan mahapatihnya, Gajah Mada yang terkenal dengan sumpah Amukti Palapa-nya.
