Geliat Pesantren Waria di Masa Pandemi

Bertahan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 menjadi ujian berikutnya yang sangat berat bagi santri Pondok Pesantren Waria Al Fatah ini. Saat virus Corona mulai mewabah, mereka dilanda kebingungan karena tidak bisa beraktivitas, tidak bisa keluar pondok untuk bekerja mencari nafkah. Aktivitas pondok langsung berhenti total.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Yang paling membuat syok itu kawan-kawan tidak bisa bekerja,” kata Shinta Ratri. Di masa normal, biasanya mereka bekerja sebagai pengamen, penjahit, pegawai salon, hingga jadi pekerja seks.

Menyadari tak jelas kapan pandemi berakhir, mereka berpikir harus bisa melakukan sesuatu yang berfaedah. Kegiatan pertama yang mereka lakukan adalah membuat masker yang ditujukan untuk kalangan waria di Yogyakarta. Setelah masker, mereka juga membuat hand sanitizer setelah memperoleh pelatihan dari seorang apoteker.

Namun, hasil kegiatan mereka tak cukup membantu untuk menyambung hidup. Apalagi, sebagai kelompok minoritas, mereka juga tidak tercatat sebagai penerima bantuan berupa uang tunai Rp 600 ribu dari pemerintah. Akhirnya, mereka berinisiatif menggalang donasi. Beruntung, ada saja orang-orang yang mengulurkan tangan. Alhasil, sebanyak 40 santri dan 138 waria yang kini berada di Pondok Pesantren Waria Al Fatah bisa bertahan dari donasi itu.

Maka, dari pesantren waria itu, setiap saat masih terdengar suara orang mengaji, mendaraskan keagungan Tuhan.

One Reply to “Geliat Pesantren Waria di Masa Pandemi”

Tinggalkan Balasan