Pada 2008, keinginan Shinta Ratri terwujud. Ia mampu menyediakan sebuah rumah dengan 10 kamar yang kemudian juga dijadikan pesantren. Pesantren itu ia beri nama Pondok Pesantren Waria Al Fatah. Saat itu, ada sekitar 40 orang waria yang terdaftar sebagai santri.
Seperti umumnya pondok pesantren, di Pondok Pesantren Waria Al Fatah ini para waria diajari mengaji, memperdalam ilmu agama dan berlatih beribadah secara benar. Sebelum adanya pesantren ini, kelompok waria ini kesulitan jika hendak belajar agama dan beribadah. Sebab, keberadaan mereka belum diterima sepenuhnya oleh masyarakat umum. “Jadi, Al Fatah ini mengakomodasi teman-teman yang ingin dekat dengan Tuhan,” ujar Shinta Ratri.

Para waria ini kemudian mempercayakan kepada Ustadz Arif Nuh Safri untuk menjadi pengasuh pondok. Sehari-hari, Arif Nuh Safri adalah dosen di Institut Ilmu Alquran An Nur Bantul. Lelaki inilah yang mendamping dan mengajari para waria mengaji. Tak berselanga lama, pesantren itu pindah di kawasan Kotagede pada 2014.
Sebagai kelompok transgender, keseharian santri waria ini memang berbeda dengan di pesantren pada umumnya. Setidaknya, dari cara berpakaian mereka. Saat beribadah, misalnya, para waria mengenakan busana berdasar pada kenyamanan masing-masing. Artinya, jika ia lebih nyaman memakai sarung, maka mereka pakai sarung. Jika lebih suka pakai rukuh atau mukena, maka tak ada yang melarang. Sehingga, antara yang pakai sarung atau mukena berkumpul jadi satu, tak ada batas pemisah berdasar jenis kelamin.
Sayangnya, ada kelompok masyarakat yang suka dengan keberadaan pondok pesantren waria ini. Maka, pada 2016, Pondok Pesantren Waria Al Fatah ini harus ditutup. Alasannya adalah ketidaknyamanan para warga karena rumah yang dipakai untuk pesantren adalah milik Shinta yang posisinya di tengah pemukiman dan tak ada izin untuk dijadikan lembaga. Juga ada penolakan dari kelompok masyarakat yang mengatasnamakan Front Jihad Islam (FJI). Alasannya, keberadaan Pondok Pesantren Waria Al Fatah dicurigai akan menelurkan fikih yang memperbolehkan nikah sesama jenis.
Namun, tak lama kemudian, sekitar empat bulan berselang, pesantren waria ini mulai dihidupkan kembali. Selanjutnya ada tiga guru mengaji yang rutin mengajar di pesantren ini, yaitu Ustadz Arif Nur Safri, Idlofi, dan Sholihul Amin Al Ma’mun. para waria ini belajar membaca al-Quran, belajar iqra, dan hafalan surat-surat pendek.

Salut dan hebat