Gemuruh, Proses Menjadi ”Ada”

Bencana sering kali membawa rasa hampa, nihilisme, seolah dunia tidak lagi memiliki arah. Tapi Nietzsche percaya, justru di tengah kehampaan itulah manusia bisa menciptakan nilai-nilai baru. Sang fotografer tidak hanya bertahan hidup, ia memberi arti pada penderitaan dengan mengambil gambar-gambar erupsi. Foto-foto itu adalah bentuk makna yang ia ciptakan —bukti bahwa bahkan dalam kehancuran, ada sesuatu yang layak diabadikan.

Dalam pandangan Nietzsche, tragedi bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan diterima sebagai bagian dari perjalanan menuju kekuatan yang lebih besar. Dalam novel ini, bencana Sinabung adalah tragedi besar, tetapi bagi protagonis, itu menjadi kesempatan untuk berkembang. Alih-alih menyerah, ia menjadikan tragedi ini alat untuk menemukan kekuatan baru, baik secara mental maupun kreatif.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tokoh utama, Anggi, mempraktikkan nihilisme aktif. Aliran ini merupakan respons Nietzsche terhadap nihilisme pasif, yaitu perasaan hampa atau kehilangan makna hidup. Dalam nihilisme aktif, manusia tidak menyerah pada kekosongan tersebut, tetapi malah menciptakan nilai dan makna baru untuk mengisi kekosongan itu. Protagonis dalam Gemuruh melambangkan nihilisme aktif ketika ia mengubah kekacauan dan kehancuran menjadi sesuatu yang bermakna melalui tindakannya —menciptakan keindahan dari tragedi.

Gunung Sinabung dalam Gemuruh adalah simbol kekuatan yang tidak bisa dikendalikan. Nietzsche menyebut hal seperti ini sebagai “kehendak kosmik” —kekuatan alam yang lebih besar dari manusia. Namun, protagonis tidak melawan kekuatan itu. Ia justru berdamai dengannya, bahkan menggunakannya sebagai inspirasi. Foto-fotonya adalah bukti bahwa ia menghormati kekuatan alam, bukan sebagai musuh, tetapi sebagai sesuatu yang megah dan penuh makna.

Pada akhirnya, yang membuat novel ini begitu menarik dalam perspektif Nietzsche adalah cara tokoh utamanya tidak hanya bertahan, tetapi juga menciptakan sesuatu yang bernilai di tengah kekacauan. Ia tidak menyerah pada kekosongan atau ketakutan, tetapi mengubahnya menjadi momen penciptaan. Dari sinilah Gemuruh tidak hanya menjadi cerita tentang bencana, tetapi juga kisah tentang bagaimana manusia bisa bangkit, menghadapi penderitaan, dan menemukan makna dalam kekacauan.

Ini bukan sekadar soal bertahan hidup, tapi soal memilih untuk “ada” dengan cara yang bermakna—persis seperti yang Nietzsche ajarkan.

Bata Buku:

Judul: Gemuruh
Penulis: Hilmi Faiq
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit: 19 Desember 2024
Isi: 192 Halaman
ISBN: 9786235233482

Tinggalkan Balasan