Gemuruh, Proses Menjadi ”Ada”

Yang menarik dalam Gemuruh adalah interaksi antara refleksi eksistensial Heidegger dan kebutuhan manusiawi Maslow. Pada satu sisi, ketakutan eksistensial terhadap kematian mendorong protagonis untuk bertindak dan bertahan hidup. Namun, pada sisi lain, dorongan untuk menciptakan sesuatu yang bermakna, seperti fotografi, menunjukkan adanya kebutuhan untuk melampaui batas-batas keberadaan sehari-hari.

Masjid yang dijadikan tempat perlindungan dalam cerita adalah simbol dari harapan dan stabilitas. Dalam perspektif Heidegger, ini dapat dipandang sebagai place of being —ruang di mana manusia dapat merasa aman untuk merefleksikan keberadaan mereka. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh Maslow, ruang ini juga menjadi dasar untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, seperti kebersamaan dan pencarian makna.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Gemuruh adalah meditasi mendalam tentang keberadaan manusia di tengah bencana. Dalam narasinya, Hilmi Faiq menyatukan ketakutan eksistensial, kebebasan untuk memilih, dan pencarian makna dalam konteks yang penuh tekanan. Perspektif filsafat eksistensialisme dan teori kebutuhan manusia menjadikan buku ini tidak hanya sebagai cerita tentang bencana alam, tetapi juga eksplorasi tentang apa artinya menjadi manusia.

Dengan gaya penulisan yang penuh emosi dan detail deskriptif yang menghidupkan Gunung Sinabung sebagai karakter tersendiri, Gemuruh mengajarkan bahwa meskipun manusia tidak dapat mengendalikan kekuatan alam, kita tetap memiliki kekuatan untuk memilih, bertindak, dan memberi makna pada pengalaman hidup kita. Dalam perspektif Sartre, kita bebas menentukan arti hidup kita, bahkan ketika dunia seolah runtuh di hadapan kita.

Kacamata Nietzsche

Novel Gemuruh membawa kita ke tengah bencana erupsi Gunung Sinabung, sebuah latar yang penuh dengan ketidakpastian, ketakutan, dan penderitaan. Tetapi jika kita meminjam pandangan Friedrich Nietzsche, cerita ini bukan hanya soal bertahan hidup —melainkan soal bagaimana manusia bisa bangkit, melampaui dirinya sendiri, dan menciptakan makna bahkan di tengah kekacauan.

Bayangkan protagonisnya: seorang fotografer yang memilih tetap berada di zona bahaya. Ia tahu risikonya, ia tahu maut begitu dekat. Namun, ia tetap bertahan untuk satu alasan: menciptakan sesuatu yang bernilai. Baginya, foto-foto erupsi bukan sekadar dokumentasi, tapi karya yang memperlihatkan keindahan di balik kengerian alam. Ini sangat Nietzschean—keberanian untuk menghadapi ketakutan dan menggunakannya untuk menciptakan sesuatu yang bermakna.

Dalam filosofi Nietzsche, keberanian adalah jalan menuju pertumbuhan. Ketika orang lain lari dari bencana, si fotografer justru mendekat. Ia tidak membiarkan rasa takut melumpuhkannya. Sebaliknya, ia melihat kekacauan ini sebagai peluang untuk merekam momen yang mungkin tidak akan terulang lagi. Tindakannya mencerminkan semangat will to power —keinginan untuk mengambil kendali atas hidup, bahkan di saat situasi tampak di luar kendali.

Cara pandang ini disebut Vitalisme. Vitalisme Nietzsche berfokus pada kehendak untuk berkuasa (will to power) sebagai prinsip dasar kehidupan. Bagi Nietzsche, kehidupan bukan sekadar bertahan hidup (survival), tetapi berkembang, menciptakan, dan melampaui batas diri. Dalam konteks ini, protagonis novel menunjukkan vitalisme ketika ia menghadapi tantangan besar (bencana Gunung Sinabung) dan menggunakan situasi tersebut sebagai peluang untuk menciptakan sesuatu yang bernilai, yaitu karya seni fotografi.

Tinggalkan Balasan